This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 24 November 2014

Definisi Prestasi Belajar

A.    Pengertian prestasi belajar
Menurut Tohirin (2008: 151) ”Prestasi adalah apa yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar”. Nana Sudjana yang dikutip oleh Tohirin (2008: 151) berpendapat bahwa ”Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya)”. Menurut Witherington yang dikutip oleh Nana Syaodih (2009: 155) mengemukakan pengertian belajar yaitu, “Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
B.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Menurut Slameto (2003) dan Suryabrata (2002) secara garis besarnya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dapat dikelompokkan atas :
a.       Faktor Internal
Faktor yang menyangkut seluruh pribadi termasuk kondisi fisik maupun mental atau psikis. Faktor internal ini sering disebut faktor instrinsik yang meliputi kondisi fisiologi dan kondisi psikologis yang mencakup minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan lain-lain.
1.      Kondisi Fisiologis Secara Umum
Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar seseorang. Orang yang ada dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang ada dalam keadaan lelah. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuannya berada dibawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi. Anak-anak yang kurang gizi mudah lelah, mudah mengantuk, dan tidak mudah menerima pelajaran.
2.      Kondisi Psikologis
Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologi. Oleh karena itu semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Itu berarti belajar bukanlah berdiri sendiri, terlepas dari faktor lain seperti faktor dari luar dan faktor dari dalam. Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Meski faktor luar mendukung, tetapi faktor psikologis tidak mendukung maka faktor luar itu akan kurang signifikan. Oleh karena itu minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampukan-kemampuan kognitif adalah faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses dan hasil belajar mahasiswa(Djamara:2008).
3.      Kondisi Panca Indera
Disamping kondisi fisiologis umum, hal yang tak kalah pentingnya adalah kondisi panca indera terutama penglihatan dan pendengaran. Sebagian besar yang dipelajari manusia dipelari menggunakan penglihatan dan pendengaran. Orang belajar dengan membaca, melihat contoh atau model, melakukan observasi, mengamati hasil eksperimen, mendengarkan keterangan guru dan orang lain, mendengarkan ceramah, dan lain sebagainya.
4.      Intelegensi/Kecerdasan
Intelegensi adalah suatu kemampuan umum dari seseorang untuk belajar dan memecahkan suatu permasalahan. Jika intelegensi seseorang rendah bagaimanapun usaha yang dilakukan dalam kegiatan belajar, jika tidak ada bantuan orang tua atau pendidik niscaya usaha belajar tidak akan berhasil.
5.      Bakat
Bakat merupakan kemampuan yang menonjol disuatu bidang tertentu misalnya bidang studi matematika atau bahasa asing.Bakat adalah suatu yang dibentuk dalam kurun waktu, sejumlah lahan dan merupakan perpaduan taraf intelegensi. Pada umumnya komponen intelegensi tertentu dipengaruhi oleh pendidikan dalam kelas, sekolah, dan minat subyek itu sendiri. Bakat yang dimiliki seseorang akan tetap tersembunyi bahkan lama-kelamaan akan menghilang apabila tidak mendapat kesempatan untuk berkembang.
6.      Motivasi
Motivasi memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat, dan rasa senang dalam belajar sehingga yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar. Mahasiswa yang mempunyai motivasi tinggi sangat sedikit yang tertinggal dalam belajarnya. Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Karena itu motivasi belajar perlu diusahakan terutama yang berasal dari dalam diri (motivasi intrinsik) dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus untuk mencapai cita-cita. Senantiasa memasang tekat bulat dan selalu optimis bahwa cita-cita dapat dicapai dengan belajar.. Bila ada mahasiswa yang kurang memiliki motivasi instrinsik diperlukan dorongan dari luar yaitu motivasi ekstrinsik agar mahasiswa termotivasi untuk belajar.
b. Faktor Eksternal
Faktor yang bersumber dari luar diri individu yang bersangkutan. Faktor ini sering disebut dengan faktor ekstrinsik yang meliputi segala sesuatu yang berasal dari luar diri individu yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya baik itu di lingkungan sosial maupun lingkungan lain (Djamara, 2008).
1.      Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu:
a)      Lingkungan Alami
Lingkungan alami seperti keadaan suhu, kelembaban udara berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Belajar pada keadaan udara yang segar akan lebih baik hasilnya daripada belajar pada suhu udara yang lebih panas dan pengap.
b)      Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial, baik yang berwujud manusia dan representasinya (wakilnya), walaupun yang berwujud hal yang lain langsung berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Seseorang yang sedang belajar memecahkan soal akan terganggu bila ada orang lain yang mondar-mandir didekatnya atau keluar masuk kamar. Representasi manusia misalnya memotret, tulisan, dan rekaman suara juga berpengaruh terhadap hasil belajar
2.      Faktor Instrumental
Faktor-faktor instrumental adalah yang penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan yang telah dirancang. Faktor-faktor ini dapat berupa :
a)      Perangkat keras /hard ware
misalnya gedung, perlengkapan belajar, alat-alat praktikum, dan sebagainya.
b)      Perangkat lunak /soft ware
seperti kurikulum, program, dan pedoman belajar lainnya.



Office Boy Jadi Vice presiden, Bukan Hayalan



Houtman Zainal Arifin dilahirkan pada tanggal 27 Juli 1950 di Kota Kediri Jawa Timur. Pengalaman hidupnya yang amat inspiratif patut untuk disimak, yang awalnya ia hanya seorang office boy hingga bisa menduduki jabatan nomor satu sebagai seorang Vice President Citibank. Beliau juga pernah menjabat sebagai direksi di perusahaan swasta, pengawas keuangan di beberapa perusahaan swasta, komite audit BUMN, konsultan, penulis serta dosen pasca sarjana di sebuah Universitas.
Houtman dilahirkan dari keluarga pas-pasan. Kisah hidupnya dimulai ketika lulus dari SMA, Hotman merantau ke Jakarta dan tinggal di daerah Kampung Bali dari tahun 1951-1974, Houtman membawa mimpi di Jakarta untuk hidup berkecukupan dan menjadi orang sukses di Ibukota, namun apa daya di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak banyak pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh.
Sewaktu tinggal di tanah abang, ayahnya sakit keras. Orang tuanya ingin berobat, tetapi tidak mempunyai biaya yang cukup. Melihat keadaan seperti itu, ia tidak mau menyerah. Dengan bermodal hanya Rp 2.000,- hasil pinjaman dari temannya, Houtman menjadi pedagang asongan menjajakan perhiasan imitasi dari jalan raya hingga ke kolong jembatan mengarungi kerasnya kehidupan ibukota. Usaha dagangannya kemudian laku keras, namun ketika ia sudah menuai hasil dari usahanya, ternyata Tuhan memberinya cobaan, ketika petugas penertiban datang, dagangannya di injak hingga jatuh ke lumpur. Ketika semua dagangannya sudah rusak bercampur lumpur, ternyata teman-temannya yang dari kawula rendah seperti tukang sepatu, tukang sayur, dan lain-lain, beramai-ramai membersihkan dagangan Houtman. Disini Houtman mulai mendapatkan pengalaman berharga tentang kerasnya kehidupan Ibukota.
Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan ber-AC, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya. Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.
Suatu hari, Houtman melihat ada orang gila wara-wiri di sekitar rumahnya. Orang gila itu hampir tidak pakai baju. Dia pada saat itu cuma punya baju 3 pasang. Hebatnya, Houtman ikhlas memberi ke orang gila itu sepasang baju plus sabun dan sisir. Tuhan memang Maha Adil, Pada hari ketiga setelah kejadian tersebut, Tiba-tiba datang surat yang menyatakan bila dia diterima menjadi OB disebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (Citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.
Waktu jadi OB, Houtman sering melihat training. Karena jabatannya hanya OB, dia tentu tidak dianggap. Kemampuan bahasa Inggris Houtman pun cuma sekedar yes-no. Tapi Houtman berprinsip, “Saya harus berbuat. Saya harus pintar.” Setiap hari selama training itu, dia ada di depan pintu dan mencatat semuanya. Training officer-nya lama-lama jadi menyuruh Houtman masuk (tapi secara kasar). Si training officer mengumumkan pada para trainer, “Pengumuman, dia tidak terdaftar dan dia tidak akan diuji,” kata training officer. Mendengarnya, Houtman tidak terima. Dia sudah berada di ruangan yang sama berarti dia sudah menjadi salah satu peserta training dan juga harus diuji.
Sebagai Office Boy, Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai, Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan istilah bank. Houtman lalu menantang diri sendiri, “Saya harus lulus!”. Padahal saingannya adalah lulusan UI, Michigan, Ohio, ITB dan banyak universitas TOP lainnya. Sementara dia, bisa lulus SMA saja sudah untung. “Pokoknya harus lulus dan gak boleh jadi yang terakir,” tekad Houtman. Tuhan memang Maha Besar, dari 34 orang Houtman masuk 4 besar dan dia pada tahun 1978 dikirim ke Eropa.
Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak anak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.
Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA. Kemudian ia pun di angkat menjadi pegawai di bank Citibank tersebut, Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat. Sekitar 19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman kemudian mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak Citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi Citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia. Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang. Pada hari Kamis tepatnya pada tanggal 20 Desember 2012 Bapak Houtman Zainal Arifin berpulang ke Rahmatullah.

Pelajaran yang dapat dipetik adalah kita tidak akan pernah kekurangan apa bila kita mau saling memberi, jika kita mau bersilaturahmi dan banyak berteman dengan siapa saja kita akan mendapatkan rezeki yang lebih banyak, dan jika kita ikhlas memberi, Allah pasti akan memberikan kita sesuatu yang lebih.

**********
Artikel di atas adalah hasil saduran dan kutipan dari berbagai tulisan baik media cetak maupun elektronik. Tulisan tersebut dimaksudkan untuk sharing motivasi, inspirasi, kisah hidup dan lain-lain.



Sumber:http://inmotivasi.blogspot.com/2014/09/kisah-inspiratif-office-boy-yang-menjadi-vice-president.html

Sabtu, 15 November 2014

Datar

Pernah enggak sih, mengalami fase dimana hubungan kamu terasa terlalu datar untuk disebut hubungan. Bukan..bukan karena kamu bosan berhubungan dengannya. Tapi lebih  karena kehubungan ini terlalu berjalan “baik-baik saja” . Pernah?
Jadi mungkin kamu bakal nglakuin hal ini, Kamu berusaha keras untuk mencari cara biar hubungan kamu dinamis, dengan mengajak melakukan suatu hal. Berharap bahwa hal itu akan memperbarui hubungan kamu yang ‘lempeng’ menuju ke arah yang lebih menyenangkan. Karena di sisi sujektifmu, kamu berteriak “Aku ingin melakukan sesuatu denganmu, tapi aku ingin melakukan suatu hal yang seru, tidak seperti biasanya.” Tapi sayangnya pasanganmu ini tidak menyambut baik ajakanmu. Jadi akhirnya malah kamu sendiri yang BT. Lalu malah berkahir dengan tragis. Dan kamu bingung apa lagi yang harus kamu lakukan.
Mungkin ini perasaan subjektif yang dialami wanita saja, karena biasanya cowok kurang mengerti dengan hal tersebut.
Ah...sinopsis diatas emang bagian dari curhat. Mungking aku terlalu sering liat drama korea dimana cowoknya selalu so sweet, dan terlihat mempunyai kehidupan yang penuh kejutan. Cowoknya yang selalu berjuang mati-matian untuk memperjuangkan cintanya, atau kalaupun yang ngejar-ngejar cewek. Si cowok selalu memperhatikan si cewek diam diam. Tapi ini dunia nyata kan? Dimana semuanya hanya bisa dilihat dari sisimu. Karena Kamu kagak punya CCTV untuk mantelengin 24 jam pasanganmu itu. Apalagi kalo Kamu LDR, dimana nafas hubunganmu hanyalah kesetiaan, kepercayaan, dan komunikasi.
Seberapapun lamanya kamu menjalin hubungan, dan sebaik apapun kamu berusaha menjalani hubungan itu. Memang selalu ada sisi dimana kamu tidak mengerti mengenai tingkah pasanganmu. Atau mengapa dia selama ini dia tidak mengenal keinginan kita dengan baik. Mungkin itulah hal yang justru sebenarnya membuat hubunganmu penuh warna.
Terkadang sebagai wanita, kita memang selalu ingin dinomer satukan dalam segala hal. Bahkan akan sangat cemburu pada hal-hal kecil seperti ketika wanita tahu kalau pasangannya lebih dulu menjawab pesan yang orang lain_walaupun cowok_dari pada dia. Atau lebih memilih bermain dengan teman-temannya dari pada dia. Di sisi cowok, terkadang hal tersebut tidak bisa diterima dan dimengerti. Sedangkan menurut cewek itu adalah KEHARUSAN. Kenapa? karena si cewek melakukan hal yang sama tanpa si cowok memperingatkan. Si cewek selalu dan akan selalu mengutamakan pasangannya dalam segala hal. Cewek selalu menjawab pertama kali telpon dari pasangannya, selalu mengutamakan pesan-pesan dari pasangannya, selalu mengutamakan kepentingan pasangannya, selalu memperhatikan apa yang dimakan pasangannya, apa yang minum, apa yang dipakai, bagaimana dia berjalan. Semuanya..semuanya yang ia tahu. Mengutamakan bahkan jauh dari mengutamakan diri sendiri. jadi ketika ada pasangannya yang tidak melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan. Ia akan kecewa.
Ya wanita memang selalu ingin diutamakan. Sedangkan si cowok selalu menjawab dengan logis bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan. Lalu kamu bertanya-tanya, kenapa tidak bisa? aku mengutamakanmu setiap saat, dan kamu tidak bisa melakukan itu untuk beberapa hal? dan itu adalah salah satu pikiran yang sebenarnya menyakiti diri sendiri, menyakiti wanita. Walaupun di beberapa saat wanita bisa mengerti akan tindakan pasangannya, tapi pasti ada saat dimana wanita tidak bisa terus-terus melakukannya . Karena kesiapan mental wanita untuk mengerti hal itu juga terus berubah ubah. Karena kalau tidak akan muncul pertanyaan yang lebih gawat lagi, seperti “Kalau kamu tidak mengutamakanku? lalu apa bedanya aku dengan temanmu?” atau lebih parah lagi “Aku tuh berarti enggak sih?” kayak iklan Koran Sindo.

            Lalu bagaimana solusi agar hal tersebut tidak terjadi? Jawabanku tidak tahu, karena aku sendiri juga belum bisa mengatasinya. Mengatasi cara yang bisa disetujui dua belah pihak untuk membuat hubungan lebih ‘menyenangkan’ . Pasti selalu ada ketimpangan dimana salah satunya tidak mau melakukannya. Ya ini bukan berarti aku bosan dengannya, atau jenuh dengannya. Tapi hanya bosan dengan situasinya.  Itulah kenapa aku lebih suka menghindar ketika usahaku untuk memperbaikin kurang disambut. dan berhubung,’sahabatku’ itu tipe yang malas untuk menjelaskan dengan panjang lebar. Jadi aku lebih memilih untuk mengerti sendiri, menganalisis, sendiri, mencari sebab-sebabnya sendiri, sembuh dan baik dengan sendirinya. Mungkin aku tipe cewek yang tidak punya harga diri, karena ketika banyak perempuan diluar sana yang mati-matian mempertahankan harga diri dan gengsi dengan tidak mau meminta maaf pada pasangannya, walaupun sebenarnya si cewek yang salah. Maka kalau aku_mungkin ini terlihat sedikit sombong_ aku tidak akan malu walaupun pada awalnya duluan yang menghindar dan diam, nanti aku juga yang akan ‘menghampirinya’ meminta maaf duluan, aku tidak peduli dia minta maaf atau tidak, atau dia merasa turut andil dalam masalah yang kita itu atau tidak. Tak masalah aku yang harus terus-terusanan mengerti. Ya mungkin pilihan ini bisa dibilang  tindakan yang bodoh. Tapi bukannya yang menjadi masalah adalah gengsi? Maka jangan takut untuk menurunkan harga diri. Dari segala macam jalan keluar dari ‘kendala’ hubungan yang aku lalui. Menurunkan harga diri adalah cara yang paling efektif dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Lalu apa aku akan melakukannya (lagi) untuk masalah kali ini, entahlah..rasanya saat ini aku hanya ingin melihat drama korea saja :D .  Mungkin bisa dibilang sengaja lari untuk dicari :v.

Selasa, 11 November 2014

Sharing Garing The Power of Kepepet

1.      Masalah apa yang di rasakan mengganggu??
Masalah yang sangat mengganggu yang saya alami adalah masalah kebiasaan saya yang suka mengerjakan tugas ketika sudah mepet dengan death line. seperti tugas ini contohnya, saya seperti tidak menemukan inspirasi dan semangat ketika tugas sudah jauh hari sebelum death line.
2.      Sejak kapan?
Sepertinya permasalahan ini sudah saya alami sejak lama, sehingga saya tidak ingat kapan saya melakukannya.
3.      Faktor penyebab
Saat saya analisis pada diri sendiri salah satu faktor penyebabnya adalah persepsi saya pada diri sendiri bahwa saya tidak akan menemukan ide atau inspirasi untuk mengerjakan ketika tenggang waktunya masih banyak, saya takut kalau saya tidak bisa mengerjakannya sehingga saya lebih memilih untuk menunda, hal lainnya adalah karena saya kurang sibuk. karena saya pikir kalau saya sibuk saya pasti tidak akan menunda-nuda pekerjaan saya.
4.      Apa yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
Saya mencoba untuk menyibukkan diri dengan tarjet-tarjet yang lain yang dapat meningkatkan kompetensi saya selain kompetensi yang harus dikuasai di luar kuliah seperti menulis cerita dan tarjet mengupload cerita secara berkala di web tertentu.
5.      Bagiamana Hasilnya?
Rencana-rencana dan tarjet tarjet saya selalu berhasil di awal. tapi ketika saya sudah menunda atau terpaksa sekali tidak melakukan itu maka motivasi saya untuk meneruskannya langsung berubah dan saya harus mengulangi dari awal lagi dari mulai memotivasi diri sendiri dan menarjetkan hal lain dan hal itu membuat saya sangat malas melakukannya. Akhirnya saya lebih memilih untuk memanfaatkan teh power of kepepet saya.
6.      Rencana Selanjutnya

            Saya akan mencoba untuk menghilangkan persepi negative saya dan mencoba lagi untuk menjadikan diri saya menjadi sibuk sehingga saya akan lebih menghargai waktu dan tidak mebuang buang waktu untuk sekedar bermalas-malasan dan menunda pekerjaan

Senin, 10 November 2014

Pendidikan Seks untuk Anak Sejak Dini, Perlu atau Tabu?


Pendidikan seks untuk anak sejak dini, dipandang tabu oleh sebagian masyarakat. Alasan untuk tidak mengajarkan pendidikan seks untuk anak sejak dini pun bermacam-macam, dari mulai bahwa hal tersebut tidak perlu dipelajari karena anak akan mengerti dengan sendirinya sampai bahwa pendidikan seks adalah pendidikan ala barat yang menimbulkan dampak negative bagi anak. Hal tersebut mengakibatkan pertanyaan-pertanyaan seputar seks yang diajukan oleh anak seperti “Aku berasal dari mana?” tidak terjawab, dan lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa hal tersebut belum waktunya untuk dipelajari. Padahal sekarang banyak sekali terjadi fenomena-fenomena tentang kejahatan seksual terhadap anak dibawah umur yang begitu meresahkan masyarakat.
Hasil survey dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa 60 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks sebelum menikah dan angka itu bertambah setiap tahunnya. Angka yang cukup memprihatinkan terutama untuk negeri kita yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ahklak dan moral Mengapa mereka bisa melakukan seks sebelum menikah? Salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya pendidikan seks kepada anak dan remaja, sehingga mereka mencari-cari informasi seputar seks dari luar, apalagi sekarang media informasi seperti internet sangat mudah sekali diakses, jika informasi yang didapat anak adalah informasi negative, maka tentu akan berdampak negative pula terhadap anak.
Untuk membahas masalah seks pada anak, memang bukanlah perkara yang mudah, apalagi yang ada dalam pikiran  orang tua ketika mendengar “pendidikan seks pada anak” adalah mengajarkan anak untuk melakukan hubungan seksual. Sehingga orang tua enggan untuk mengajarkannya, dan memilih untuk menyerahkan semua pendidikan termasuk pendidikan seks kepada sekolah, padahal yang berkewajiban untuk mendidik anak adalah orang tua. Sekolah hanyalah pelengkap dalam memberikan informasi kepada anak.  Lalu kapan pendidikan seks perlu diajarkan kepada anak? Apakah orang tua harus menunggu anak memasuki masa remaja?
Menurut Clara Kriswanto, seorang konsultan psikolog, mengingatkan bahwa pendidikan seks untuk anak harus dimulai sejak dini, bahkan sejak sampai usia 0-5 tahun, dan  proses ini akan berlangsung hingga anak mencapai tahap remaja akhir. Mengapa hal tersebut penting? Pendidikan seks yang ditanamkan sejak dini akan mempermudah anak dalam mengembangkan harga diri anak, dan penerimaan diri yang positif. Disini peran orang tua sangatlah penting, karena orang tua yang paling mengenal kebutuhan anak, paling tahu perkembangan diri anak, serta memberi pendidikan seks secara alamiah sesuai dengan tahap-tahap perkembangan anak. Berikut ini adalah penjelasan cara-cara memberikan pendidikan seks kepada anak-anak :
Ø  Ajak anak untuk mengenali bagian tubuhnya, mulailah dengan mengenalkan alat kelaminnya dengan benar sesuai dengan nama sebenarnya. Usahakan jangan menggunakan kata lain ataujulukan untuk menyebut anak kelamin, karena hal terbeut akan mengakibatkan kebingungan pada anak. Jangan lupa untuk menjelaskan fungsi setiap bagian dengan bahasa yang sederhana dan dimengerti oleh anak. Katakan bahwa tubuhnya adalah karunia yang sangat berharga dan harus dijaga dengan baik.
Ø  Bangun kebiasaan positif. Misalnya tidak berganti baju di tempat terbuka, tidak pipis di sembarang tempat, dll.
Ø  Tanamkan pentingnya menjaga organ tubuh tertentu, seperti alat vital, dari sentuhan orang lain, disertai dengan penjelasan sederhana yang bisa ditermina dan dimengerti dengan baik oleh anak.
Ø  Biasakan anak berpakaian sesuai dengan identitas kelaminnya sejak dini. Banyak kelalaian orang tua mengenai hal ini. Mereka membuat anak perempuan menjadi tomboy dan anak laki-laki menjadi feminis. Dalam kondisi ekstrem anak bahkan bisa mengalami kebingungan identitas seksual.
Ø  Pada usia balita, kadang anak memegang-megang alat kelaminnya. Agar anak tidak terus-menerus melakukan kebiasaan itu, alihkan tangan anak untuk melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat seperti melipat kertas, memainkan tali dan akan menyibukkan dan melatih tangannya. Lakukan dengan lembut dan pada saat yang tepat. Beri pengertian untuk tidak menyentuh alat kelaminnya kecuali ada keperluan seperti mau pipis, atau ada keluhan sakit. Jika anak bertanya kenapa tidak boleh melakukannya, saatnya untuk dijelaskan tentang sopan santun tentang bagian tubuh yang wajar untuk dilihat dan dipegang.
Ø  Pada usia 3 tahun, adalah waktu yang tepat untuk menanamkan kebiasaan pada anak untuk aktivitas buang air kecil dan buang air besar pada tempatnya. Anak diajari untuk tahu dimana dan dengan siapa ia harus meminta tolong bmelakukan aktivitas tersebut. Beritahukan pada anak, siapa saja orang yang boleh menolongnya.
Ø  Sampaikan pada anak bahwa tidak boleh ada orang lain yang memegang bagian tubuh tertentu, termasuk alat kelamin.
Ø  Pada usia 2-3 tahun anak mulai bertanya darimana bayi berasal. Tapi pada tahap ini anak belum mengerti  mengenai detail dari alat reproduksi tersebut, sehingga jawablah sesuai  dengan usia mereka saja seperti, “ ibu memiliki rahim di dalam perut ibu, dan di dalam rahim ibu itulah, kamu hidup dan membesar hingga akhirnya siap untuk dilahirkan ke dunia.”


      

"Kebodohanku"

“Kalau kata ‘Hampir’ gimana nulisnya? Hurufnya apa aja hayoo?” Ia memutar bola matanya ke kiri, seperti berusaha mengingat semua huruf yang dihafalnya.
“H?” Dia bertanya, aku menggeleng sambil mengedikkan bahu, pura-pura tak tahu. Dia menuliskan huruf  ‘h’ di kertas dengan ragu-ragu. huruf ‘h’ itu kemudian diiukuti dengan huruf ‘m, p,i dan r’. Ia melihatku setelah menulis deretan huruf itu, tanda bahwa ia telah menyelesaikan tulisannya. Aku melihat tulisan “hmpir” yang dibuatnya. “Hayoo ada satu huruf lagi yang ketinggalan, huruf apa yang kurang?” Tanyaku kemudian. Dahinya mengernyit, ia melihat tulisannya lagi “Sudah bener lho mbak”, katanya yakin sambil menunjuk tulisannya.
“Masih kurang…ayo huruf apa yang kurang.”
“Sudah benar” Katanya lagi.
“Hampir itu ‘ham’ sama ‘pir’ biar bisa dibaca ‘ham’ perlu huruf apa aja? ayo coba di eja” jelasku berusaha membenarkan tulisannya.
“H…” Ia menjawab, lagi lagi dengan ragu-ragu. “Trus?” tanyaku. “M…” Lanjutnya.
“Hmmm” Aku menggeleng “Bukan, biar bisa dibaca ‘hi’ harus ada huruf ‘h sama I’ biar bisa dibaca ‘ho’ harus ada huruf ‘h dan o’ kalok biar bisa dibaca ‘ha?’ harus ada huruf apa aja?” aku bertanya lagi.
“Lha iya mbak..ina kan ‘h’ “ Katanya bersi keras sambil menunjuk huruf ‘h’ yang tadi di tulisnya.
Aku terdiam, sambil membenarkan dalam hati “iya sih, itu bacanya h.” Memahami sepenuhnya kenapa ia bersi keras mengaakan bahwa tulisannya sudah benar. pikirannya yang sederhana, yang menganggap tulisan “hmpirnya” sudah berbunyi  “hampir” karena huruf ‘h’ tanpa huruf vocal ‘a’ pun sudah berbunyi “ha”, aku kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya, tepatnya aku tak tahu  bagaimana keharusan itu dibuat sehingga aku memutuskan memberitahunya saja tanpa penjelasan panjang lebar seperti tadi.
 “Hampir” itu hurufnya “h, a, m, p, i, r” berarti itu kurang huruf apa? “ Tanyaku, “A” katanya sambil merubah tulisannya, menuruti apa yang aku ucapkan tanpa pemahaman. terlihat dari wajahnya. Mungkin dipikirannya yang sederhana ada berjuta pertanyaan kenapa harus menambahi huruf ‘a’ setelah huruf ‘h’ sedangkan bunyi huruf ‘h’ sendiri adalah “ha”, mungkin baginya itu adalah pemborosan kata, dan buang-buang tenaga.
Ditengah usaha anak itu membetulkan tulisannya, aku mengutuki diriku sendiri kenapa aku tak bisa menemukan kata-kata sederhana yang bisa memahamkannya, aku kehilangan kata-kata sederhana dan jujur yang selalu kuucapkan ketika waktu kecil. Kata-kata sederhana dan jujur yang selalu kuucapkan sebelum aku terkotori oleh kata-kata penuh maksud-maksud dan topeng-topeng yang biasa di gunakan oleh orang dewasa. Entah maksud membuat agar orang tak tersinggung, maksud tak enak mengatakannya, maksud membuat orang lain senang dan maksud-maksud yang jauh dari kata hatiku. Ah…sepertinya bukan itu saja, tepatnya aku benar-benar tak tahu kenapa keharusan menambah huruf “a” setelah huruf “h” ataupun huruf “e” setelah “d” untuk menulis kata “hampir dan depan” terbentuk.

Pengetahuanku disepanjang aku menempuh pendidikan sampai detik ini, benar-benar tak bisa diandalkan membuatku menemukan jawaban dari pertanyaan sederhana itu. Aku tahu ini sebagian besar karena kebodohanku dalam menangkap pelajaran dan kebodohanku dalam menjelaskan karena ketika kemarin aku pulang, ibuku yang telah berpengalaman menjadi tenaga pendidik dan pengajar bertahun-tahun itu mengatakan bahwa mungkin saja penjelasan kita yang harus diganti, karena anak-anak tidak menangkapnya, bukan karena anaknya yang tidak paham. Itu sangat mungkin terjadi, atau mungkin aku harus mempelajari filsafat lebih mendalam. Atau  mungkin memang itu bentuk dari otak kita yang selalu disetting untuk mengikuti yang “biasanya” dan “seharusnya” tanpa ingin dan mau mempertanyakan lagi apakah yang biasanya dan menjadi keharusan kita adalah suatu hal yang masuk akal untuk di kerjakan, karena menjadi “biasa dan harus” yang disebut sebagai suatu yang “normal” menjadi posisi yang nyaman. Banyak orang yang mati-matian menjadi normal, walaupun hal normal adalah hal yang tak masuk akal. Sepanjang perjalananku bersama Transjogja, tiba-tiba rentetan kata-kata di plang-plang iklan pinggir jalan yang biasanya aku baca, bahkan rentetan paragfraf di koran menjadi tak masuk akal juga.

(Cerpen) "Bounty Hunter "

Bounty Hunter
(Pemburu Bayaran)
“Ker” begitulah setiap orang memanggilku. Nama panjangku memang pendek, dan nama pendekku adalah nama panjangku, hanya 3 huruf itu, dan tak ada tambahan apapun di belakang atau di depannya. Ketika umurnku 4 tahun, aku selalu bertanya pada ayahku dengan suara cedalku, mengapa namaku begitu “tanggung?” dan mengapa ayah begitu terburu-buru sampai tak sempat menyelesaikan namaku? dan akhir dari percakapan itu aku selalu memaksa ayahku untuk melanjutkan namaku yang tampak belum selesai itu, dengan huruf apapun. Aku bahkan pernah mengusukan namaku menjadi ‘Kera’ atau ‘Keren’. Tapi ayahku yang selalu nampak sibuk dengan kertas berisi nama-nama orang itu. Dari caranya melirikku sambil lalu, aku tahu bahwa dia tidak tertarik menjawab pertanyaanku, Kalaupun dia menjawab, dia akan  akan menjawab yang sebenarnya tak ku tanyakan.
“Kau tidak bisa menyebutkan namamu dengan suara itu, bunyi namamu bukan seperti ketika kau mengatakan “Kereta”, “Kerja” atau “Keramas”, kau harus meletakkan lidahmu di bawah gigi agar dapat mengucapkan namamu dengan benar.” Ya…begitulah cara ayahku membungkamku, dia  menjelaskan bahwa pengucapan namaku salah, dan selalu membenarkanku dengan teori lidahnya yang justru membuatku semakin bingung. “Salah sendiri memberi nama aneh.” Tak beberapa lama setelah gerutuanku itu, aku akan membiarkan ayah sendirian di ruang kerjanya yang gelap.
1 tahun kemudian, aku berhenti menyebut namaku sendiri dengan sebutan ‘aneh’, dan berbalik menjadi sangat menyukai nama itu. Oh iya, aku juga sudah benar menyebut namaku. Ternyata bunyinya sama seperti ketika orang batak menyebutkan “Kerja”. Kekagumanmu pada namaku itu bermula  ketika sedikit demi sedikit aku  dapat membaca. Aku menemukan buku 3000 halaman di perpustakaan ayahku yang membahas tentang “Ker”. Buku berjudul “Dewa Kematian” itu mengatakan bahwa Ker adalah dewi kematian dalam mitologi Yunani, yang membawa kematian yang kejam, termasuk kematian dalam pertempuran, kecelakaan, pembunuhan atau penyakit. Di buku itu juga dikatakan bahwa Ker adalah makhluk yang haus darah dan secara kejam merobek jiwa dari tubuh yang sekarat lalu mengirimnya ke dunia bawah. Ribuan Ker berterbangan di atas area pertempuran, dan jika ada manusia yang mati, maka para Ker akan saling berebut seperti burung pemakan bangkai. Dan bagian yang menurutku paling menarik adalah bahwa Ker sebenarnya tidak berkuasa atas hidup dan mati manusia tetapi sifat haus darah mereka menjadikan para Ker berusaha membuat orang-orang mati. Zeus dan dewa-dewa lainnya bisa menghentikan atau mempercepat para Ker. Dan Para dewa Olimpus sering berdiri di dekat pasukan yang mereka dukung untuk mencegah datangnya para Ker pada pasukan mereka.
Aku bersyukur karena wajahku tidak mirip dengan dewa kematian yang namanya mirip denganku itu. Kalian tahu? Wajahnya benar-benar buruk rupa, hidungnya seperti paruh burung yang panjang, bengkok dan lancip di bagian ujungnya. Di punggungnya terdapat dua sayap dan seluruh kaki dan tangannya dipenuhi sisik yang nampak menjijikkan. Aku tak pernah mengerti mengapa Ayahku memberi nama, dengan nama dewa mengerikan itu hingga suatu hari, aku melakukan hal buruk yang tak akan di lupakannya seumur hidup, sekaligus membuatku mengerti mengapa ayahku memberiku nama “Ker”.
                                                            ***

Pagi itu entah dengan alasan apa, ayahku mengajari putra satu-satunya  ini dengan pelajaran yang harusnya tidak di berikan oleh anak umur 5 tahun sepertiku. Dia memberiku pistol semi otomatis walther-P99, yang tak beberapa lama kemudian, aku tahu bahwa jenis pistol itu adalah termasuk 10 besar pistol terbaik di dunia. Aku memegangnya dengan takut, benda itu begitu berat dan besar di tangan mungilku. Ayahku bilang bahwa aku adalah satu-satunya penerusnya dan mau tak mau aku harus terbiasa memegang benda berbahaya itu. Pada saat itu aku tak mengerti, apa hubungannya antara aku yang penerusnya dan “terbiasa dengan pistol?”, bukannya aku tinggal duduk di belakang kursi penuh dokumen berisi nama-nama, untuk menjadi penerusnya?
            “Aku akan mencontohkanmu satu kali, dan kau harus melakukan seperti apa yang kulakukan.” Ayah mengarahkan pistol itu pada boneka tedy bear kesayanganku yang diletakkan di atas drum minyak. Aku melihat ayahku menarik pelatuknya dan pistol itu memuntahkan bunyi desingan yang membuatku menutup mata dan menutup telinga dengan kedua tangan mungilku. Peristiwa selanjutnya yang kuingat adalah ayahku memaksaku menembak dengan cara yang sama, di tengah isak tangisku yang pecah karena beruang tedy bear kesayanganku sekarang  hanya mempunyai satu mata, beruang tedy bear malangku itu sekarang cacat oleh tembakan ayahku.
            “Jangan menangis seperti perempuan ! Tak seharusnya kau menyayangi apapun !“ Itulah kata terakhir ayahku, sebelum aku terpaksa mengangkat pistol, mengarahkan pada balon warna merah yang di gantungkan di atas pohon. Mataku masih kabur dengan air mata yang tak bisa berhenti. Aku menarik pelatuknya sambil memejamkan mata. Selanjutnya adalah peristiwa-peristiwa mengerikan. Aku hanya bisa mengingatnya seperti slide-slide yang berkeliaran di pikiranku. Slide pertama aku terjengkang karena tak kuat menahan tekanan pistol itu. Slide kedua aku melihat pistol itu terlepas dan membumbung ke langit. Slide ketiga aku melihat orang-orang termasuk ayahku mengerumuni seseorang. Slide keempat aku melihat ayahku yang beruraian air mata pergi dengan membopong mamaku yang dadanya berlumuran darah. Slide terakhir adalah slide yang paling mengerikan kerena melihat diriku sendiri mengatakan
“Jangan menangis seperti perempuan ! Tak seharusnya kau menyayangi apapun !“ kata-kataku itu, tentu saja ku tunjukkan pada ayahku, walaupun pada saat itu sebenarnya aku juga sangat sedih karena kehilangan Mamaku, setidaknya aku bisa memberi pelajaran ayahku bahwa kata itu adalah kata yang paling menyakitkan  dan kata yang tidak tepat untuk diucapkan pada orang  baru saja kehilangan sesuatu yang dia sayangi.
                                                            ***
Saat ini umurku 10 tahun, dan seperti kata ayah dulu, aku adalah satu-satunya penerus ayahku. Penerus ayahku untuk menjadi “Bounty Hunter”, orang-orang yang dibayar untuk membunuh orang lain. Sekarang aku begitu mahir memegang senjata jenis apapun, senjata apapun yang bisa dipakai untuk membunuh orang, dan tentunya tanpa salah sasaran. Alih-alih trauma memegang pistol ketika aku menyadari bahwa tembakanku membuat mamaku terbunuh, aku justru ketagihan dan tergila-gila untuk membunuh orang dengan tembakanku, yaa…aku tahu bahwa tidak sedikit orang yang menyebutku kelainan jiwa karena di tengah acara pemakam mamaku, bukannya menangis, aku justru sibuk membersihkan pistolku, tapi apa peduliku dengan acara pemakaman itu? Menangis tak akan membuat mamaku hidup kembali seperti tak akan membuat teddy bearku mempunyai mata lagi bukan?
            Bersamaan dengan berakhirnya hidup mamaku, berakhir pula hubungan hangatku dengan ayahku. Aku tak ingat kapan terakhir kalinya ayahku memelukku, menepuk pundakku dan memanggil dengan sebutan “nak”, ia juga berhenti berbicara padaku, sampai aku lupa bagaimana suaranya. Ayahku selalu menitipkan pesan pada anak buahnya  untuk disampaikan padaku. Dia bahkan diam saja ketika teman-temannya memuji kemampuan menembakku. Caranya memandangku berbeda ketika ia memandang anak buahnya, aku tak mengerti arti tatapannya padaku sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ketika ayahku menembak Pak Maher, musuh terberat ayahku. Ya…cara dia menatapku sama dengan caranya menatap musuh terbesarnya, walaupun Pak Yan kolega ayahku, berkali-kali mengatakan bahwa aku terlalu berlebihan, dan meyakinkanku bahwa itu hanyalah perasaan bersalahku karena membunuh mamaku. Aku selalu ingin menanyakan kenapa ia melakukan itu padaku ketika ayahku berpapasan denganku, sungguh…aku benar-benar ingin tahu alasannya, tapi mulutku selalu terkunci ketika dia menatapku dengan tatapan muak itu.
                                                                        ***
            Selama 10 tahun hidupku aku sudah membunuh lebih dari 20 orang termasuk mamaku, aku bahkan berada diurutan teratas sniper terhebat yang dimiliki ayahku. Aku masih ingat, mangsa pertamaku adalah imigran gelap yang bekerja menjadi bandar kokain yang bersembunyi di pabrik rokok yang telah ditinggalkan pemiliknya karena bangkrut. Wajah polosku mungkin membuat orang itu mengira bahwa aku hanyalah salah satu anak-anak penangkap belalang yang sering berkeliaran di sekitar pabrik itu, bandar itu dengan bodohnya memberiku permen karet yang diambil dari kantung celananya, dan menyuruhku cepat pergi. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati, anak kecil mana yang tak suka permen karet? Sebelum aku pergi, aku bahkan mengucapkan terimakasih padanya, dan  dengan senyum licik aku menembak tepat di kepalanya. Dan setelah itu aku mendapatkan 600 juta untuk tambahan uang sakuku.
            Sejak saat itu, aku begitu laris, setidaknya minimal aku membunuh 2 orang dalam satu minggu. Bisnis gelap ayahku ini, memang sudah begitu professional dan terkenal, gangster manapun akan berkeringat jika mendengar nama ayahku. Perjanjian dibisnis kami adalah kami tidak akan memihak pada organisasi manapun, asalkan mereka memberikan bayaran lebih 1 milyar kami akan membunuhnya. Aku bahkan pernah membunuh orang yang baru saja membayarku untuk membunuh orang lain atas perintah keluarga musuhnya yang dendam, jadi aku dengan tenangnya membunuh orang yang ia perintahkan untuk dibunuh lalu satu jam kemudian aku menghampirinya untuk mencabut nyawanya. Tapi ketika aku membunuh aku mengajukan syarat, aku menolak membunuh wanita yang mempunyai anak untuk alasan apapun dan untuk bayaran berapapun. Kasihan tentu saja bukan alasanku, aku hanya tidak suka ada anak-anak yang kisah hidupnya sama denganku, aku benci mempunyai saingan. Membunuh memang sudah seperti candu buatku, aku seperti sakau jika tak ada mangsa yang harus ku bunuh, dan secara membabi buta aku akan membunuh 2 atau 3 orang bawahan ayahku sebagai gantinya.
                                                                        ***
Mei 2013, aku membaca nama-nama orang yang akan menjadi tarjet selanjutnya, nama itu adalah nama yang dikirim ayahku yang sekarang sedang melakukan sandiwara sebagai “penjahat terkejam” yang di berhasil di tangkap dan di penjara untuk menaikkan citra pemerintah dimata masyarakat, setelah 1 bulan yang lalu citranya anjlok karena kasus korupsi yang dilakukan kubunya. Ayahku dibayar 6 trilyun untuk melepas 6 bulan kebebasannya dengan pura-pura dipenjara, walaupun sebenarnya penjara itu lebih mirip hotel bintang 5 dari pada penjara. 6 bulan kemudian dia akan pura-pura di eksekusi mati. dan ayahku bisa bebas dan kembali ke istananya.
5 bulan 28 hari setelah ayahku di penjara, ayahku sudah mengirimkan 58 nama untuk dibunuh, sebagian besar aku bunuh sebagian lagi aku serahkan pada anak buah ayahku, jika nama yang akan dibunuh adalah orang-orang membosankan, yang akan mati dengan cepat. Anak buah ayahku sering bertanya padaku mengapa aku begitu bersemangat untuk membunuh orang. Pertama kali diajukan pertanyaan seperti itu, sebenarnya aku juga tak tau apa jawabannya, tapi aku begitu puas ketika orang-orang yang akan kubunuh meremehkanku ketika mereka melihatku, aku puas cara mereka terkejut mendengar namaku, aku puas ketika mereka ketakukan melihat moncong pistol yang kuarahkan pada mereka, aku puas ketika mendengar bunyi ”bruk” yang mengiringi jatuhnya badan mereka ke lantai. Aku benar-benar puas ketika darah mereka mengalir mengotori lantai-lantai marmer rumahnya sendiri.
            “Aku ingin kau membunuh orang ini dengan tanganmu sendiri sebelum aku bebas, aku akan mengirim namanya besok. Orang ini berbahaya” begitu bunyi pesan dari ayahku. Aku penasaran, sebelumnya ayahku sama sekali tak pernah mendekteku tentang siapa yang akan kubunuh, biasanya dia hanya memberikan nama dan aku yang akan menentukan siapa yang akan membunuh. Seberapa bahaya orang itu? Apakah orang itu gangster impor yang sudah 5 tahun menjadi incaran ayahku?
Aku membacanya kemudian, dahiku berkerut, aku yakin aku bukanlah orang yang buta huruf, aku sudah bisa membaca sejak usiaku 3 tahun. Tapi aku berharap aku salah membaca dan menemukan nama orang lain selain nama itu untuk tarjet terakhir ayahku sebelum dirinya bebas. Aku berharap ayahku mengatakan “Juni Mop”_ walaupun kedengarannya aneh_,sebagai tanda bahwa dia mengerjaiku, tapi 2 jam berlalu sepertinya ayahku benar-benar berniat untuk melihat kolega terbaiknya itu mati. Adakah hal yang lebih tidak masuk akal dari pada seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk bunuh diri? Ya namaku terpampang disana dengan jelas, “KER” begitu ayahku menulis namaku, dengan huruf besar yang seolah menandai besar dendamnya padaku. Tapi kenapa?
            “KAU PIKIR AKU TAK BERANI MELAWANMU !”Aku berteriak, aku bisa mendengar suaraku menggema di ruangan luas yang pengap, aku sudah tak tahan lagi, kemarahan sudah naik diatas kepalaku, jika orang itu tidak mengangapku anaknya, aku juga bisa tak menganggapnya sebagai ayahku. Aku meraih pistol di laciku, mecobanya dengan menembakkannya di monitor yang menampilkan namaku.
            “Kau akan mati seperti monitor itu.” Aku tersenyum, senyum ragu antara kemarahan dan ketakutan. Satu jam kemudian aku mendapati diriku berada di dalam “penjaraan-penjaraan” ayahku. Berdiri tepat di depannya yang sedang menikmati kopi dan sepiring kue brownis, dengan pistol ditangan. Yang menyebalkan adalah ayahku tak mengubah sedikitpun ekpresi datarnya ketika melihatku, aku berani taruhan, pasti dia mendapatkan nilai F dalam pelajaran drama bahasa indonesia.
            “Kau datang?” Katanya, tanpa menggeser matanya dari koran dengan halaman depan yang memberitahukan bahwa dia akan di eksekusi mati besok. Serius…dia manusia yang paling kurang ajar.
            “AKU AKAN MEMBUNUHMU !” kataku menjawab pertanyaannya, tapi aku benci suara bergetar ketika aku mengatakan kata-kata itu. Aku benci ketika keringat bermunculan di telapak tangan dan keningku. Berita gembiranya adalah dia akhirnya menatapku walaupun masih dengan tatapan “menghadapi musuh besarnya.” Dan berita buruknya lagi, kakiku bergetar seketika itu. Apakah aku takut? Aku bahkan tak percaya pada diriku sendiri bahwa aku takut, aku tak pernah merasakan takut sebelumnya, tapi aku lega mendapati ayahku tak memegang pistol jenis apapun di tangannya. Aku mengarahkan pistolku ke matanya agar dia mati seperti tedy bearku. Aku berharap dia berlutut padaku, menangis dan meminta maaf atas perlakuannya selama ini padaku dan memohon agar aku tak menembaknya atau mencegahku dan berkata bahwa aku durhaka karena telah secara kurang ajar berniat membunuh orang yang secara kebetulan dipilih Tuhan untuk menjadi ayahku, sehingga aku bisa memintanya untuk bertobat dan memulai hidup baru untuk menjadi ayah yang baik untuk, memintanya untuk setidaknya sekali saja dalam hidupku memperlihatkan senyumnya. Tapi percaya atau tidak, aku harus menelan kekecewaan karena dia sama sekali tak melakukan hal itu, dia justru memejamkan mata, wajahnya menunjukkan ketidak sabaran untuk merasakan peluruku menerobos rongga matanya.

Sepertinya aku gila, aku tertawa terbahak-bahak. “SIAL ! Apa begitu konyolnya cara orang yang paling di takuti di Negara ini mati? Mati ditangan anaknya?!” aku tertawa lagi. Sedetik kemudian aku diam. Aku menarik nafas dalam mengatakan “Selamat tinggal ayah” dalam hati sebelum aku menarik pelatuknya. Aku bisa melihat peluru itu meluncur dengan gerakan slow motion dimataku, lalu menembus daging seseorang dengan mudahnya.
“Brukk !!!” suara kesukaanku itu akhirnya terdengar, suara itu menggambarkan kemenangan seseorang, dan selanjutnya tentu saja akan segera terlihat warna merah menggenangi lantai penjara yang putih. Aku bisa melihat senyum menyeringai itu, senyum yang menggambarkan kepuasan, seperti senyum yang aku perlihatkan setelah membunuh seseorang.
“Hei! seharusnya itu senyum milikku!” aku ingin berteriak, tapi aku tak sanggup. Aku mulai kesulitan mengambil nafasku dengan pisau pembelah roti menancap di dadaku. Detik-detik terakhir itu, berupa potongan-potongan slide lagi. Slide pertama ayahku mendekatiku, Slide ke dua dia membungkuk di depan tubuhku yang tergeletak berlumuran darah di lantai dengan seringai meremehkannya. Slide ketiga dia mengatakan “ Itu balasan atas kematian mamamu nak” _dengan nada datarnya, tentu saja_, Slide keempat dia meninggalkanku sendirian, aku sempat melirik dinding yang berlubang karena peluruku, tanda  bahwa ayahku menghindari tembakanku untuk melemparkan pisau kue ke dadaku, Slide ke lima aku menemui diriku sendiri tersenyum puas karena pertanyaan yang menghantui tentang “mengapa ayahku membenciku” terjawab. Slide keenam aku melihat dewa buruk rupa yang namanya persis sama sepertiku tersenyum padaku. Slide terakhir gelap…