This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 11 November 2014

Sharing Garing The Power of Kepepet

1.      Masalah apa yang di rasakan mengganggu??
Masalah yang sangat mengganggu yang saya alami adalah masalah kebiasaan saya yang suka mengerjakan tugas ketika sudah mepet dengan death line. seperti tugas ini contohnya, saya seperti tidak menemukan inspirasi dan semangat ketika tugas sudah jauh hari sebelum death line.
2.      Sejak kapan?
Sepertinya permasalahan ini sudah saya alami sejak lama, sehingga saya tidak ingat kapan saya melakukannya.
3.      Faktor penyebab
Saat saya analisis pada diri sendiri salah satu faktor penyebabnya adalah persepsi saya pada diri sendiri bahwa saya tidak akan menemukan ide atau inspirasi untuk mengerjakan ketika tenggang waktunya masih banyak, saya takut kalau saya tidak bisa mengerjakannya sehingga saya lebih memilih untuk menunda, hal lainnya adalah karena saya kurang sibuk. karena saya pikir kalau saya sibuk saya pasti tidak akan menunda-nuda pekerjaan saya.
4.      Apa yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
Saya mencoba untuk menyibukkan diri dengan tarjet-tarjet yang lain yang dapat meningkatkan kompetensi saya selain kompetensi yang harus dikuasai di luar kuliah seperti menulis cerita dan tarjet mengupload cerita secara berkala di web tertentu.
5.      Bagiamana Hasilnya?
Rencana-rencana dan tarjet tarjet saya selalu berhasil di awal. tapi ketika saya sudah menunda atau terpaksa sekali tidak melakukan itu maka motivasi saya untuk meneruskannya langsung berubah dan saya harus mengulangi dari awal lagi dari mulai memotivasi diri sendiri dan menarjetkan hal lain dan hal itu membuat saya sangat malas melakukannya. Akhirnya saya lebih memilih untuk memanfaatkan teh power of kepepet saya.
6.      Rencana Selanjutnya

            Saya akan mencoba untuk menghilangkan persepi negative saya dan mencoba lagi untuk menjadikan diri saya menjadi sibuk sehingga saya akan lebih menghargai waktu dan tidak mebuang buang waktu untuk sekedar bermalas-malasan dan menunda pekerjaan

Senin, 10 November 2014

Pendidikan Seks untuk Anak Sejak Dini, Perlu atau Tabu?


Pendidikan seks untuk anak sejak dini, dipandang tabu oleh sebagian masyarakat. Alasan untuk tidak mengajarkan pendidikan seks untuk anak sejak dini pun bermacam-macam, dari mulai bahwa hal tersebut tidak perlu dipelajari karena anak akan mengerti dengan sendirinya sampai bahwa pendidikan seks adalah pendidikan ala barat yang menimbulkan dampak negative bagi anak. Hal tersebut mengakibatkan pertanyaan-pertanyaan seputar seks yang diajukan oleh anak seperti “Aku berasal dari mana?” tidak terjawab, dan lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa hal tersebut belum waktunya untuk dipelajari. Padahal sekarang banyak sekali terjadi fenomena-fenomena tentang kejahatan seksual terhadap anak dibawah umur yang begitu meresahkan masyarakat.
Hasil survey dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa 60 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks sebelum menikah dan angka itu bertambah setiap tahunnya. Angka yang cukup memprihatinkan terutama untuk negeri kita yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ahklak dan moral Mengapa mereka bisa melakukan seks sebelum menikah? Salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya pendidikan seks kepada anak dan remaja, sehingga mereka mencari-cari informasi seputar seks dari luar, apalagi sekarang media informasi seperti internet sangat mudah sekali diakses, jika informasi yang didapat anak adalah informasi negative, maka tentu akan berdampak negative pula terhadap anak.
Untuk membahas masalah seks pada anak, memang bukanlah perkara yang mudah, apalagi yang ada dalam pikiran  orang tua ketika mendengar “pendidikan seks pada anak” adalah mengajarkan anak untuk melakukan hubungan seksual. Sehingga orang tua enggan untuk mengajarkannya, dan memilih untuk menyerahkan semua pendidikan termasuk pendidikan seks kepada sekolah, padahal yang berkewajiban untuk mendidik anak adalah orang tua. Sekolah hanyalah pelengkap dalam memberikan informasi kepada anak.  Lalu kapan pendidikan seks perlu diajarkan kepada anak? Apakah orang tua harus menunggu anak memasuki masa remaja?
Menurut Clara Kriswanto, seorang konsultan psikolog, mengingatkan bahwa pendidikan seks untuk anak harus dimulai sejak dini, bahkan sejak sampai usia 0-5 tahun, dan  proses ini akan berlangsung hingga anak mencapai tahap remaja akhir. Mengapa hal tersebut penting? Pendidikan seks yang ditanamkan sejak dini akan mempermudah anak dalam mengembangkan harga diri anak, dan penerimaan diri yang positif. Disini peran orang tua sangatlah penting, karena orang tua yang paling mengenal kebutuhan anak, paling tahu perkembangan diri anak, serta memberi pendidikan seks secara alamiah sesuai dengan tahap-tahap perkembangan anak. Berikut ini adalah penjelasan cara-cara memberikan pendidikan seks kepada anak-anak :
Ø  Ajak anak untuk mengenali bagian tubuhnya, mulailah dengan mengenalkan alat kelaminnya dengan benar sesuai dengan nama sebenarnya. Usahakan jangan menggunakan kata lain ataujulukan untuk menyebut anak kelamin, karena hal terbeut akan mengakibatkan kebingungan pada anak. Jangan lupa untuk menjelaskan fungsi setiap bagian dengan bahasa yang sederhana dan dimengerti oleh anak. Katakan bahwa tubuhnya adalah karunia yang sangat berharga dan harus dijaga dengan baik.
Ø  Bangun kebiasaan positif. Misalnya tidak berganti baju di tempat terbuka, tidak pipis di sembarang tempat, dll.
Ø  Tanamkan pentingnya menjaga organ tubuh tertentu, seperti alat vital, dari sentuhan orang lain, disertai dengan penjelasan sederhana yang bisa ditermina dan dimengerti dengan baik oleh anak.
Ø  Biasakan anak berpakaian sesuai dengan identitas kelaminnya sejak dini. Banyak kelalaian orang tua mengenai hal ini. Mereka membuat anak perempuan menjadi tomboy dan anak laki-laki menjadi feminis. Dalam kondisi ekstrem anak bahkan bisa mengalami kebingungan identitas seksual.
Ø  Pada usia balita, kadang anak memegang-megang alat kelaminnya. Agar anak tidak terus-menerus melakukan kebiasaan itu, alihkan tangan anak untuk melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat seperti melipat kertas, memainkan tali dan akan menyibukkan dan melatih tangannya. Lakukan dengan lembut dan pada saat yang tepat. Beri pengertian untuk tidak menyentuh alat kelaminnya kecuali ada keperluan seperti mau pipis, atau ada keluhan sakit. Jika anak bertanya kenapa tidak boleh melakukannya, saatnya untuk dijelaskan tentang sopan santun tentang bagian tubuh yang wajar untuk dilihat dan dipegang.
Ø  Pada usia 3 tahun, adalah waktu yang tepat untuk menanamkan kebiasaan pada anak untuk aktivitas buang air kecil dan buang air besar pada tempatnya. Anak diajari untuk tahu dimana dan dengan siapa ia harus meminta tolong bmelakukan aktivitas tersebut. Beritahukan pada anak, siapa saja orang yang boleh menolongnya.
Ø  Sampaikan pada anak bahwa tidak boleh ada orang lain yang memegang bagian tubuh tertentu, termasuk alat kelamin.
Ø  Pada usia 2-3 tahun anak mulai bertanya darimana bayi berasal. Tapi pada tahap ini anak belum mengerti  mengenai detail dari alat reproduksi tersebut, sehingga jawablah sesuai  dengan usia mereka saja seperti, “ ibu memiliki rahim di dalam perut ibu, dan di dalam rahim ibu itulah, kamu hidup dan membesar hingga akhirnya siap untuk dilahirkan ke dunia.”


      

"Kebodohanku"

“Kalau kata ‘Hampir’ gimana nulisnya? Hurufnya apa aja hayoo?” Ia memutar bola matanya ke kiri, seperti berusaha mengingat semua huruf yang dihafalnya.
“H?” Dia bertanya, aku menggeleng sambil mengedikkan bahu, pura-pura tak tahu. Dia menuliskan huruf  ‘h’ di kertas dengan ragu-ragu. huruf ‘h’ itu kemudian diiukuti dengan huruf ‘m, p,i dan r’. Ia melihatku setelah menulis deretan huruf itu, tanda bahwa ia telah menyelesaikan tulisannya. Aku melihat tulisan “hmpir” yang dibuatnya. “Hayoo ada satu huruf lagi yang ketinggalan, huruf apa yang kurang?” Tanyaku kemudian. Dahinya mengernyit, ia melihat tulisannya lagi “Sudah bener lho mbak”, katanya yakin sambil menunjuk tulisannya.
“Masih kurang…ayo huruf apa yang kurang.”
“Sudah benar” Katanya lagi.
“Hampir itu ‘ham’ sama ‘pir’ biar bisa dibaca ‘ham’ perlu huruf apa aja? ayo coba di eja” jelasku berusaha membenarkan tulisannya.
“H…” Ia menjawab, lagi lagi dengan ragu-ragu. “Trus?” tanyaku. “M…” Lanjutnya.
“Hmmm” Aku menggeleng “Bukan, biar bisa dibaca ‘hi’ harus ada huruf ‘h sama I’ biar bisa dibaca ‘ho’ harus ada huruf ‘h dan o’ kalok biar bisa dibaca ‘ha?’ harus ada huruf apa aja?” aku bertanya lagi.
“Lha iya mbak..ina kan ‘h’ “ Katanya bersi keras sambil menunjuk huruf ‘h’ yang tadi di tulisnya.
Aku terdiam, sambil membenarkan dalam hati “iya sih, itu bacanya h.” Memahami sepenuhnya kenapa ia bersi keras mengaakan bahwa tulisannya sudah benar. pikirannya yang sederhana, yang menganggap tulisan “hmpirnya” sudah berbunyi  “hampir” karena huruf ‘h’ tanpa huruf vocal ‘a’ pun sudah berbunyi “ha”, aku kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya, tepatnya aku tak tahu  bagaimana keharusan itu dibuat sehingga aku memutuskan memberitahunya saja tanpa penjelasan panjang lebar seperti tadi.
 “Hampir” itu hurufnya “h, a, m, p, i, r” berarti itu kurang huruf apa? “ Tanyaku, “A” katanya sambil merubah tulisannya, menuruti apa yang aku ucapkan tanpa pemahaman. terlihat dari wajahnya. Mungkin dipikirannya yang sederhana ada berjuta pertanyaan kenapa harus menambahi huruf ‘a’ setelah huruf ‘h’ sedangkan bunyi huruf ‘h’ sendiri adalah “ha”, mungkin baginya itu adalah pemborosan kata, dan buang-buang tenaga.
Ditengah usaha anak itu membetulkan tulisannya, aku mengutuki diriku sendiri kenapa aku tak bisa menemukan kata-kata sederhana yang bisa memahamkannya, aku kehilangan kata-kata sederhana dan jujur yang selalu kuucapkan ketika waktu kecil. Kata-kata sederhana dan jujur yang selalu kuucapkan sebelum aku terkotori oleh kata-kata penuh maksud-maksud dan topeng-topeng yang biasa di gunakan oleh orang dewasa. Entah maksud membuat agar orang tak tersinggung, maksud tak enak mengatakannya, maksud membuat orang lain senang dan maksud-maksud yang jauh dari kata hatiku. Ah…sepertinya bukan itu saja, tepatnya aku benar-benar tak tahu kenapa keharusan menambah huruf “a” setelah huruf “h” ataupun huruf “e” setelah “d” untuk menulis kata “hampir dan depan” terbentuk.

Pengetahuanku disepanjang aku menempuh pendidikan sampai detik ini, benar-benar tak bisa diandalkan membuatku menemukan jawaban dari pertanyaan sederhana itu. Aku tahu ini sebagian besar karena kebodohanku dalam menangkap pelajaran dan kebodohanku dalam menjelaskan karena ketika kemarin aku pulang, ibuku yang telah berpengalaman menjadi tenaga pendidik dan pengajar bertahun-tahun itu mengatakan bahwa mungkin saja penjelasan kita yang harus diganti, karena anak-anak tidak menangkapnya, bukan karena anaknya yang tidak paham. Itu sangat mungkin terjadi, atau mungkin aku harus mempelajari filsafat lebih mendalam. Atau  mungkin memang itu bentuk dari otak kita yang selalu disetting untuk mengikuti yang “biasanya” dan “seharusnya” tanpa ingin dan mau mempertanyakan lagi apakah yang biasanya dan menjadi keharusan kita adalah suatu hal yang masuk akal untuk di kerjakan, karena menjadi “biasa dan harus” yang disebut sebagai suatu yang “normal” menjadi posisi yang nyaman. Banyak orang yang mati-matian menjadi normal, walaupun hal normal adalah hal yang tak masuk akal. Sepanjang perjalananku bersama Transjogja, tiba-tiba rentetan kata-kata di plang-plang iklan pinggir jalan yang biasanya aku baca, bahkan rentetan paragfraf di koran menjadi tak masuk akal juga.

(Cerpen) "Bounty Hunter "

Bounty Hunter
(Pemburu Bayaran)
“Ker” begitulah setiap orang memanggilku. Nama panjangku memang pendek, dan nama pendekku adalah nama panjangku, hanya 3 huruf itu, dan tak ada tambahan apapun di belakang atau di depannya. Ketika umurnku 4 tahun, aku selalu bertanya pada ayahku dengan suara cedalku, mengapa namaku begitu “tanggung?” dan mengapa ayah begitu terburu-buru sampai tak sempat menyelesaikan namaku? dan akhir dari percakapan itu aku selalu memaksa ayahku untuk melanjutkan namaku yang tampak belum selesai itu, dengan huruf apapun. Aku bahkan pernah mengusukan namaku menjadi ‘Kera’ atau ‘Keren’. Tapi ayahku yang selalu nampak sibuk dengan kertas berisi nama-nama orang itu. Dari caranya melirikku sambil lalu, aku tahu bahwa dia tidak tertarik menjawab pertanyaanku, Kalaupun dia menjawab, dia akan  akan menjawab yang sebenarnya tak ku tanyakan.
“Kau tidak bisa menyebutkan namamu dengan suara itu, bunyi namamu bukan seperti ketika kau mengatakan “Kereta”, “Kerja” atau “Keramas”, kau harus meletakkan lidahmu di bawah gigi agar dapat mengucapkan namamu dengan benar.” Ya…begitulah cara ayahku membungkamku, dia  menjelaskan bahwa pengucapan namaku salah, dan selalu membenarkanku dengan teori lidahnya yang justru membuatku semakin bingung. “Salah sendiri memberi nama aneh.” Tak beberapa lama setelah gerutuanku itu, aku akan membiarkan ayah sendirian di ruang kerjanya yang gelap.
1 tahun kemudian, aku berhenti menyebut namaku sendiri dengan sebutan ‘aneh’, dan berbalik menjadi sangat menyukai nama itu. Oh iya, aku juga sudah benar menyebut namaku. Ternyata bunyinya sama seperti ketika orang batak menyebutkan “Kerja”. Kekagumanmu pada namaku itu bermula  ketika sedikit demi sedikit aku  dapat membaca. Aku menemukan buku 3000 halaman di perpustakaan ayahku yang membahas tentang “Ker”. Buku berjudul “Dewa Kematian” itu mengatakan bahwa Ker adalah dewi kematian dalam mitologi Yunani, yang membawa kematian yang kejam, termasuk kematian dalam pertempuran, kecelakaan, pembunuhan atau penyakit. Di buku itu juga dikatakan bahwa Ker adalah makhluk yang haus darah dan secara kejam merobek jiwa dari tubuh yang sekarat lalu mengirimnya ke dunia bawah. Ribuan Ker berterbangan di atas area pertempuran, dan jika ada manusia yang mati, maka para Ker akan saling berebut seperti burung pemakan bangkai. Dan bagian yang menurutku paling menarik adalah bahwa Ker sebenarnya tidak berkuasa atas hidup dan mati manusia tetapi sifat haus darah mereka menjadikan para Ker berusaha membuat orang-orang mati. Zeus dan dewa-dewa lainnya bisa menghentikan atau mempercepat para Ker. Dan Para dewa Olimpus sering berdiri di dekat pasukan yang mereka dukung untuk mencegah datangnya para Ker pada pasukan mereka.
Aku bersyukur karena wajahku tidak mirip dengan dewa kematian yang namanya mirip denganku itu. Kalian tahu? Wajahnya benar-benar buruk rupa, hidungnya seperti paruh burung yang panjang, bengkok dan lancip di bagian ujungnya. Di punggungnya terdapat dua sayap dan seluruh kaki dan tangannya dipenuhi sisik yang nampak menjijikkan. Aku tak pernah mengerti mengapa Ayahku memberi nama, dengan nama dewa mengerikan itu hingga suatu hari, aku melakukan hal buruk yang tak akan di lupakannya seumur hidup, sekaligus membuatku mengerti mengapa ayahku memberiku nama “Ker”.
                                                            ***

Pagi itu entah dengan alasan apa, ayahku mengajari putra satu-satunya  ini dengan pelajaran yang harusnya tidak di berikan oleh anak umur 5 tahun sepertiku. Dia memberiku pistol semi otomatis walther-P99, yang tak beberapa lama kemudian, aku tahu bahwa jenis pistol itu adalah termasuk 10 besar pistol terbaik di dunia. Aku memegangnya dengan takut, benda itu begitu berat dan besar di tangan mungilku. Ayahku bilang bahwa aku adalah satu-satunya penerusnya dan mau tak mau aku harus terbiasa memegang benda berbahaya itu. Pada saat itu aku tak mengerti, apa hubungannya antara aku yang penerusnya dan “terbiasa dengan pistol?”, bukannya aku tinggal duduk di belakang kursi penuh dokumen berisi nama-nama, untuk menjadi penerusnya?
            “Aku akan mencontohkanmu satu kali, dan kau harus melakukan seperti apa yang kulakukan.” Ayah mengarahkan pistol itu pada boneka tedy bear kesayanganku yang diletakkan di atas drum minyak. Aku melihat ayahku menarik pelatuknya dan pistol itu memuntahkan bunyi desingan yang membuatku menutup mata dan menutup telinga dengan kedua tangan mungilku. Peristiwa selanjutnya yang kuingat adalah ayahku memaksaku menembak dengan cara yang sama, di tengah isak tangisku yang pecah karena beruang tedy bear kesayanganku sekarang  hanya mempunyai satu mata, beruang tedy bear malangku itu sekarang cacat oleh tembakan ayahku.
            “Jangan menangis seperti perempuan ! Tak seharusnya kau menyayangi apapun !“ Itulah kata terakhir ayahku, sebelum aku terpaksa mengangkat pistol, mengarahkan pada balon warna merah yang di gantungkan di atas pohon. Mataku masih kabur dengan air mata yang tak bisa berhenti. Aku menarik pelatuknya sambil memejamkan mata. Selanjutnya adalah peristiwa-peristiwa mengerikan. Aku hanya bisa mengingatnya seperti slide-slide yang berkeliaran di pikiranku. Slide pertama aku terjengkang karena tak kuat menahan tekanan pistol itu. Slide kedua aku melihat pistol itu terlepas dan membumbung ke langit. Slide ketiga aku melihat orang-orang termasuk ayahku mengerumuni seseorang. Slide keempat aku melihat ayahku yang beruraian air mata pergi dengan membopong mamaku yang dadanya berlumuran darah. Slide terakhir adalah slide yang paling mengerikan kerena melihat diriku sendiri mengatakan
“Jangan menangis seperti perempuan ! Tak seharusnya kau menyayangi apapun !“ kata-kataku itu, tentu saja ku tunjukkan pada ayahku, walaupun pada saat itu sebenarnya aku juga sangat sedih karena kehilangan Mamaku, setidaknya aku bisa memberi pelajaran ayahku bahwa kata itu adalah kata yang paling menyakitkan  dan kata yang tidak tepat untuk diucapkan pada orang  baru saja kehilangan sesuatu yang dia sayangi.
                                                            ***
Saat ini umurku 10 tahun, dan seperti kata ayah dulu, aku adalah satu-satunya penerus ayahku. Penerus ayahku untuk menjadi “Bounty Hunter”, orang-orang yang dibayar untuk membunuh orang lain. Sekarang aku begitu mahir memegang senjata jenis apapun, senjata apapun yang bisa dipakai untuk membunuh orang, dan tentunya tanpa salah sasaran. Alih-alih trauma memegang pistol ketika aku menyadari bahwa tembakanku membuat mamaku terbunuh, aku justru ketagihan dan tergila-gila untuk membunuh orang dengan tembakanku, yaa…aku tahu bahwa tidak sedikit orang yang menyebutku kelainan jiwa karena di tengah acara pemakam mamaku, bukannya menangis, aku justru sibuk membersihkan pistolku, tapi apa peduliku dengan acara pemakaman itu? Menangis tak akan membuat mamaku hidup kembali seperti tak akan membuat teddy bearku mempunyai mata lagi bukan?
            Bersamaan dengan berakhirnya hidup mamaku, berakhir pula hubungan hangatku dengan ayahku. Aku tak ingat kapan terakhir kalinya ayahku memelukku, menepuk pundakku dan memanggil dengan sebutan “nak”, ia juga berhenti berbicara padaku, sampai aku lupa bagaimana suaranya. Ayahku selalu menitipkan pesan pada anak buahnya  untuk disampaikan padaku. Dia bahkan diam saja ketika teman-temannya memuji kemampuan menembakku. Caranya memandangku berbeda ketika ia memandang anak buahnya, aku tak mengerti arti tatapannya padaku sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ketika ayahku menembak Pak Maher, musuh terberat ayahku. Ya…cara dia menatapku sama dengan caranya menatap musuh terbesarnya, walaupun Pak Yan kolega ayahku, berkali-kali mengatakan bahwa aku terlalu berlebihan, dan meyakinkanku bahwa itu hanyalah perasaan bersalahku karena membunuh mamaku. Aku selalu ingin menanyakan kenapa ia melakukan itu padaku ketika ayahku berpapasan denganku, sungguh…aku benar-benar ingin tahu alasannya, tapi mulutku selalu terkunci ketika dia menatapku dengan tatapan muak itu.
                                                                        ***
            Selama 10 tahun hidupku aku sudah membunuh lebih dari 20 orang termasuk mamaku, aku bahkan berada diurutan teratas sniper terhebat yang dimiliki ayahku. Aku masih ingat, mangsa pertamaku adalah imigran gelap yang bekerja menjadi bandar kokain yang bersembunyi di pabrik rokok yang telah ditinggalkan pemiliknya karena bangkrut. Wajah polosku mungkin membuat orang itu mengira bahwa aku hanyalah salah satu anak-anak penangkap belalang yang sering berkeliaran di sekitar pabrik itu, bandar itu dengan bodohnya memberiku permen karet yang diambil dari kantung celananya, dan menyuruhku cepat pergi. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati, anak kecil mana yang tak suka permen karet? Sebelum aku pergi, aku bahkan mengucapkan terimakasih padanya, dan  dengan senyum licik aku menembak tepat di kepalanya. Dan setelah itu aku mendapatkan 600 juta untuk tambahan uang sakuku.
            Sejak saat itu, aku begitu laris, setidaknya minimal aku membunuh 2 orang dalam satu minggu. Bisnis gelap ayahku ini, memang sudah begitu professional dan terkenal, gangster manapun akan berkeringat jika mendengar nama ayahku. Perjanjian dibisnis kami adalah kami tidak akan memihak pada organisasi manapun, asalkan mereka memberikan bayaran lebih 1 milyar kami akan membunuhnya. Aku bahkan pernah membunuh orang yang baru saja membayarku untuk membunuh orang lain atas perintah keluarga musuhnya yang dendam, jadi aku dengan tenangnya membunuh orang yang ia perintahkan untuk dibunuh lalu satu jam kemudian aku menghampirinya untuk mencabut nyawanya. Tapi ketika aku membunuh aku mengajukan syarat, aku menolak membunuh wanita yang mempunyai anak untuk alasan apapun dan untuk bayaran berapapun. Kasihan tentu saja bukan alasanku, aku hanya tidak suka ada anak-anak yang kisah hidupnya sama denganku, aku benci mempunyai saingan. Membunuh memang sudah seperti candu buatku, aku seperti sakau jika tak ada mangsa yang harus ku bunuh, dan secara membabi buta aku akan membunuh 2 atau 3 orang bawahan ayahku sebagai gantinya.
                                                                        ***
Mei 2013, aku membaca nama-nama orang yang akan menjadi tarjet selanjutnya, nama itu adalah nama yang dikirim ayahku yang sekarang sedang melakukan sandiwara sebagai “penjahat terkejam” yang di berhasil di tangkap dan di penjara untuk menaikkan citra pemerintah dimata masyarakat, setelah 1 bulan yang lalu citranya anjlok karena kasus korupsi yang dilakukan kubunya. Ayahku dibayar 6 trilyun untuk melepas 6 bulan kebebasannya dengan pura-pura dipenjara, walaupun sebenarnya penjara itu lebih mirip hotel bintang 5 dari pada penjara. 6 bulan kemudian dia akan pura-pura di eksekusi mati. dan ayahku bisa bebas dan kembali ke istananya.
5 bulan 28 hari setelah ayahku di penjara, ayahku sudah mengirimkan 58 nama untuk dibunuh, sebagian besar aku bunuh sebagian lagi aku serahkan pada anak buah ayahku, jika nama yang akan dibunuh adalah orang-orang membosankan, yang akan mati dengan cepat. Anak buah ayahku sering bertanya padaku mengapa aku begitu bersemangat untuk membunuh orang. Pertama kali diajukan pertanyaan seperti itu, sebenarnya aku juga tak tau apa jawabannya, tapi aku begitu puas ketika orang-orang yang akan kubunuh meremehkanku ketika mereka melihatku, aku puas cara mereka terkejut mendengar namaku, aku puas ketika mereka ketakukan melihat moncong pistol yang kuarahkan pada mereka, aku puas ketika mendengar bunyi ”bruk” yang mengiringi jatuhnya badan mereka ke lantai. Aku benar-benar puas ketika darah mereka mengalir mengotori lantai-lantai marmer rumahnya sendiri.
            “Aku ingin kau membunuh orang ini dengan tanganmu sendiri sebelum aku bebas, aku akan mengirim namanya besok. Orang ini berbahaya” begitu bunyi pesan dari ayahku. Aku penasaran, sebelumnya ayahku sama sekali tak pernah mendekteku tentang siapa yang akan kubunuh, biasanya dia hanya memberikan nama dan aku yang akan menentukan siapa yang akan membunuh. Seberapa bahaya orang itu? Apakah orang itu gangster impor yang sudah 5 tahun menjadi incaran ayahku?
Aku membacanya kemudian, dahiku berkerut, aku yakin aku bukanlah orang yang buta huruf, aku sudah bisa membaca sejak usiaku 3 tahun. Tapi aku berharap aku salah membaca dan menemukan nama orang lain selain nama itu untuk tarjet terakhir ayahku sebelum dirinya bebas. Aku berharap ayahku mengatakan “Juni Mop”_ walaupun kedengarannya aneh_,sebagai tanda bahwa dia mengerjaiku, tapi 2 jam berlalu sepertinya ayahku benar-benar berniat untuk melihat kolega terbaiknya itu mati. Adakah hal yang lebih tidak masuk akal dari pada seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk bunuh diri? Ya namaku terpampang disana dengan jelas, “KER” begitu ayahku menulis namaku, dengan huruf besar yang seolah menandai besar dendamnya padaku. Tapi kenapa?
            “KAU PIKIR AKU TAK BERANI MELAWANMU !”Aku berteriak, aku bisa mendengar suaraku menggema di ruangan luas yang pengap, aku sudah tak tahan lagi, kemarahan sudah naik diatas kepalaku, jika orang itu tidak mengangapku anaknya, aku juga bisa tak menganggapnya sebagai ayahku. Aku meraih pistol di laciku, mecobanya dengan menembakkannya di monitor yang menampilkan namaku.
            “Kau akan mati seperti monitor itu.” Aku tersenyum, senyum ragu antara kemarahan dan ketakutan. Satu jam kemudian aku mendapati diriku berada di dalam “penjaraan-penjaraan” ayahku. Berdiri tepat di depannya yang sedang menikmati kopi dan sepiring kue brownis, dengan pistol ditangan. Yang menyebalkan adalah ayahku tak mengubah sedikitpun ekpresi datarnya ketika melihatku, aku berani taruhan, pasti dia mendapatkan nilai F dalam pelajaran drama bahasa indonesia.
            “Kau datang?” Katanya, tanpa menggeser matanya dari koran dengan halaman depan yang memberitahukan bahwa dia akan di eksekusi mati besok. Serius…dia manusia yang paling kurang ajar.
            “AKU AKAN MEMBUNUHMU !” kataku menjawab pertanyaannya, tapi aku benci suara bergetar ketika aku mengatakan kata-kata itu. Aku benci ketika keringat bermunculan di telapak tangan dan keningku. Berita gembiranya adalah dia akhirnya menatapku walaupun masih dengan tatapan “menghadapi musuh besarnya.” Dan berita buruknya lagi, kakiku bergetar seketika itu. Apakah aku takut? Aku bahkan tak percaya pada diriku sendiri bahwa aku takut, aku tak pernah merasakan takut sebelumnya, tapi aku lega mendapati ayahku tak memegang pistol jenis apapun di tangannya. Aku mengarahkan pistolku ke matanya agar dia mati seperti tedy bearku. Aku berharap dia berlutut padaku, menangis dan meminta maaf atas perlakuannya selama ini padaku dan memohon agar aku tak menembaknya atau mencegahku dan berkata bahwa aku durhaka karena telah secara kurang ajar berniat membunuh orang yang secara kebetulan dipilih Tuhan untuk menjadi ayahku, sehingga aku bisa memintanya untuk bertobat dan memulai hidup baru untuk menjadi ayah yang baik untuk, memintanya untuk setidaknya sekali saja dalam hidupku memperlihatkan senyumnya. Tapi percaya atau tidak, aku harus menelan kekecewaan karena dia sama sekali tak melakukan hal itu, dia justru memejamkan mata, wajahnya menunjukkan ketidak sabaran untuk merasakan peluruku menerobos rongga matanya.

Sepertinya aku gila, aku tertawa terbahak-bahak. “SIAL ! Apa begitu konyolnya cara orang yang paling di takuti di Negara ini mati? Mati ditangan anaknya?!” aku tertawa lagi. Sedetik kemudian aku diam. Aku menarik nafas dalam mengatakan “Selamat tinggal ayah” dalam hati sebelum aku menarik pelatuknya. Aku bisa melihat peluru itu meluncur dengan gerakan slow motion dimataku, lalu menembus daging seseorang dengan mudahnya.
“Brukk !!!” suara kesukaanku itu akhirnya terdengar, suara itu menggambarkan kemenangan seseorang, dan selanjutnya tentu saja akan segera terlihat warna merah menggenangi lantai penjara yang putih. Aku bisa melihat senyum menyeringai itu, senyum yang menggambarkan kepuasan, seperti senyum yang aku perlihatkan setelah membunuh seseorang.
“Hei! seharusnya itu senyum milikku!” aku ingin berteriak, tapi aku tak sanggup. Aku mulai kesulitan mengambil nafasku dengan pisau pembelah roti menancap di dadaku. Detik-detik terakhir itu, berupa potongan-potongan slide lagi. Slide pertama ayahku mendekatiku, Slide ke dua dia membungkuk di depan tubuhku yang tergeletak berlumuran darah di lantai dengan seringai meremehkannya. Slide ketiga dia mengatakan “ Itu balasan atas kematian mamamu nak” _dengan nada datarnya, tentu saja_, Slide keempat dia meninggalkanku sendirian, aku sempat melirik dinding yang berlubang karena peluruku, tanda  bahwa ayahku menghindari tembakanku untuk melemparkan pisau kue ke dadaku, Slide ke lima aku menemui diriku sendiri tersenyum puas karena pertanyaan yang menghantui tentang “mengapa ayahku membenciku” terjawab. Slide keenam aku melihat dewa buruk rupa yang namanya persis sama sepertiku tersenyum padaku. Slide terakhir gelap…


Jumat, 31 Oktober 2014

Urip Mati Manut Pak Kiai? Pener apa Keblinger?

            Menurut KBBI kata ‘Kiai’ ada beberapa arti yaitu sebutan bagi alim ulama (cerdik pandai dl agama Islam). dari pengertian tersebut sudah dapat diketahui kenapa orang-orang sangat mengagungkan kiai, terutama orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan, dimana sebagian mata pencahariannya bertani.

           Saya masih mengalami saat, dimana orang-orang rajin sekali sowan ke tempat kiai. Untuk apa? untuk mengadukan permasalahan mereka, dari masalah ekonomi, masalah politik, masalah syariat, masalah keluarga sampai ke urusan masalah yang sebenarnya sepele dan bisa diputuskan sendiri. Tapi kecintaan_kalau boleh dibilang lebih mengarah ke fanatik_kepada kiai, membuat mereka merasa tidak afdhol jika tidak di diskusikan dulu ke kiai. Bahkan untuk urusan membeli motorpun, mereka sowankan ke kiai. Hal tersebut yang membuat  kediaman para kiai tidak pernah sepi. Baik kiai yang mempunyai pondok, ataupun kiai yang tidak mendirikan pondok. Entah siapa yang memulai duluan tradisi semacam itu.

           Kiai, terutama kiai kampung. Menurut orang orang awam memanglah seperti semacam ‘Mbah Google’ berjalan tanpa koneksi internet di jaman sekarang. Tempat pemecahan masalah berbagai macam persoalan. Para kiai itupun, menempatkan diri sebagai ‘pelayan’ dan “pengabdi’ masyarakat. Sehingga menerima kedatangan ‘para pengadu masalah’ tanpa pandang bulu. Mereka tak pernah memperlakukan istimewa tamunya yang berasal dari kalangan orang kaya atau pejabat, dan tidak pernah merendahkan tamunya yang berasal dari kalangan bawah. Semua orang beliau layani dengan tangan terbuka dan senang hati, tanpa memandang status sosial, status hubungan, status umur, status agama bahkan status facebook.

           Kiai Syahid yang dijuluki ‘Kiai alhamdulilah’ contohnya, setiap hari rumahnya diserbu tamu dari berbagai kalangan. Tak peduli kebangsaannya, tak peduli keyakinannya, tak peduli ideologi politiknya, tak peduli status sosialnya, tak peduli jenis kelaminnya, siapa saja boleh datang dan beliau terima dengan ‘Alhamdulliah’ (terhitung mulai Mbak Tutut, Suryadi, Gus Dur, Mbak Mega, Martin, Van Bruinessen, Almarhum Arifien C Noor, Dedi Mizwar, Neno Warisman hingga Engkoh Ong, agen bus malam). Syaratnya satu, kecuali yang sedang puasa di siang hari, setiap tamu harus makan di tempat beliau. Meski suguhannya ala kadarnya, tetapi sikap beliau selalu membuat hidangan yang disuguhkan dirasa nikmat oleh tamu-tamunya. Meskipun ada tamunya yang tidak tahu diri, datang tanpa mempertimbangkan waktu (Pernah ada tamu rombongan dua bus tengah malam) beliau tetap menerimanya dengan ‘alhamdulliah!’(Bisri, 2003)

           Untuk itu tak sedikit orang yang rela mengorbankan hartanya, bahkan nyawanya untuk kiai yang sangat dihormatinya itu. Ingat adanya peristiwa dari kalangan NU yang menamakan dirinya “Gerakan Berani Mati” untuk membela Gus Dur. Dan Gus Dur akhirnya dengan memakai celana pendek, keluar dari istana untuk dengan kerelaannya melepas jabatan presidennya. Hanya karena tidak mau umatnya mengalami pepercahan? Ya ‘hidup mati manut pak kiai’. Mngkin itu moto dari orang-orang yang sangat mencintai para kiai.

           Tidak banyak sedikit orang yang mencibir, atau ilfil terhadap orang yang mencintai para kiai. Mereka menganggap hal tersebut terlalu lebay. Mereka mungkin geram, ketika mereka bertanya sesuatu kepada orang ‘para pecinta kiai’ itu selalu dijawab dengan awalan “Kalau kata pak Kiai, atau menurut pak Kiai enggak boleh, atau kata pak Kiai harusnya begitu.“ Dan disertai dengan ngotot. Tapi ketika mereka ditanya tentang dasar-dasarnya? Hadist terutama, mereka plonga-plongo. Kemudian berusaha ngotot lagi dengan berkata “Yo pokoke jare pak Kiai ngono” .Kemudian orang yang bukan masuk golongan ‘para pecinta kiai’ atau netral saja bertanya-tanya “Sama-sama manusianya, kenapa sih diperlakukan kayak raja?” atau “Apa-apa manut kiai, memang kalau mereka suruh njebur ke jurang, mereka manut saja?”. Jawabannya ‘YA’ tentu saja mereka akan melakukannya, dengan senang hati malah. Pokoknya kalau itu sudah kata kiai, mereka secepat kilat akan melakukannya.

           Kenapa mereka sebegitunya pada para kiai? Apakah manut Kiai merupakan hal yang salah? atau hal yang benar? Mari kita tegaskan dari awal, Kiai adalah sebutan bagi alim ulama (cerdik pandai dl agama Islam). Benarkah yang disebut para kiai oleh masyarakat adalah orang semacam itu? Dulu iya. Kenapa saya katakan dulu? Karena sepertinya ‘Kiai’ atau ‘Ustadz’ yang sekarang adalah julukan yang sangat mudah disematkan pada orang. Kalau boleh saya bicara kasar, label itu sudah tidak Ori lagi, dan sudah pada tahap label KW yang sudah kesekian puluh. Padahal jaman dulu, orang-orang yang mempunyai kemampuan yang jauh diatas mumpuni untuk menjadi kiai pun, menolak dijuluki dengan sebutan itu. "Terlalu berat” Kata mereka dengan segala kerendahan hati. Para Kiai- yang beneran- tidak pernah menginginkan dirinya untuk dijuluki kiai, atau sengaja menjulukinya dirinya dan mengumumkan bahwa dia adalah kiai. Julukan itu berasal dari inisiatif masyarakat yang melihat perangainya, kedalaman ilmunya, ahklaknya, sehingga dengan ‘hormat’ menyematkan label ‘kiai’ pada orang itu. Sekali lagi saya tegaskan, yang saya sebut sebut kiai di dalam tulisan ini. Yang entah berapa banyak jumlahnya. Merupakan kiai yang sejatinya kiai. Bukan Kiai abal-abal. Jadi tolong dipahami dengan sungguh-sungguh. Jangan beda persepsi (eh...beda persepsi gak apa apa deng..lebih beda lebih seru, dan lebih pusing uga mikirnya)

            ‘Kiai’ bukanlah label asal-asalan pada orang yang sok mendalil Al-quran, atau hafal beberapa hadist. Lalu menasehati orang dengan kata arab-araban itu.  Kiai zaman dulu, pendidikannya tak main-main. Begitu juga prestasinya. contoh saja kiai yang dijuluki “Hadratus syaich” Hasyim asyari. K.H. Hasjim Asy'ari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh at-Tarmisi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.

Di Makkah, awalnya K.H. Hasjim Asy'ari belajar dibawah bimgingan Syaikh Mafudz dari Termas (Pacitan) yang merupakan ulama dari Indonesiapertama yang mengajar Sahih Bukhori di Makkah. Syaikh Mafudz adalah ahli hadis dan hal ini sangat menarik minat belajar K.H. Hasjim Asy'ari sehingga sekembalinya ke Indonesia pesantren ia sangat terkenal dalam pengajaran ilmu hadis. Ia mendapatkan ijazah langsung dari Syaikh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari, dimana Syaikh Mahfudz merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadis dari 23 generasi penerima karya ini. Selain belajar hadis ia juga belajar tassawuf (sufi) dengan mendalami Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.
K.H. Hasjim Asy'ari juga mempelajari fiqih madzab Syafi'i di bawah asuhan Syaikh Ahmad Katib dari Minangkabau yang juga ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak), matematika (ilmu hisab), dan aljabar. Di masa belajar pada Syaikh Ahmad Katib inilah K.H. Hasjim Asy'ari mempelajari Tafsir Al-manar karya monumental Muhammad Abduh.  (Wikipedia)

Atau Mbah Maimun Zubair Sarang Rembang yang pada usia sekitar 17 tahun, beliau sudah hafal diluar kepala kiab Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi’I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya. Pada tahun 1945 beliau memulai pengembaraannya ke Pondok Lirboyo Kediri, selama kurang lebih lima tahun, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim (Mbah Manaf), KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi. Menginjak usia 21 tahun, beliau meneruskan pengembaraanya ke Makkah Al-Mukarromah, selama kurang lebih 2 tahun berkutat dengan ilmu-ilmu agama didalam bimbingan Sayyid ‘Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al- Fadani dan masih banyak lagi.

Sekembalinya dari Tanah suci, beliau masih mengasah dan memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama besar tanah Jawa saat itu. Seperti KH. Baidlowi lasem (mertua beliau), KH. Ma’shum lasem, KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Sayikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abul Fadhol, Senori. (Rozi, 2010)

Dari sekian pendidikan_pendidikan yang benar-benar pendidikan_ agama maupun formal yang ditempuh para kiai selama bertahun tahun dari orang hebat dan alim ulama tersebut. TIDAK PANTASKAH orang-orang menggantungkan pemecahan masalahnya pada para kiai, yang bahkan tidak hanya hafal, tapi paham Al-quran hadist sak anak-anakke , nahwu shorof sak anak-anakke, Kitab syariat Fiqih Baidjuri, Fathul Qorib sak anak-anakke. KItab ihya’ ulumudin dan kitab tasawuf lainnya sak anak-anakke. Tafsir jalalain, ibnu katsir sak anak-anakke. Hafal hadist dari mulai shoheh bukhori, ghozalisak anak-anakke  ditambah ilmu yang paling dalam ilmu hakikat sak anak-anakke? Dari sekian banyak ilmu itu, bayangkan....dipahami oleh satu orang dan satu kepala beserta otaknya. Dan rata-rata mereka  menempuh pendidikan pondok. Dimana perkara ‘makan’ pun, tindak tanduknya, ahklak makannya akan sangat diperhatikan oleh Kiainya, bahkan sampai urusan ‘boker’  sangat diperhatikan. Masih belum pantaskah pengetahuan mereka tersebut dijadikan patokan hidup sekaligus pedoman? _ini lepas dari kiai yang tidak sesuai dengan ciri-ciri di atas_. Masih wagu kah ketika ada orang dulu yang bilang, “urip mati melu pak kiai?’

Kalau masih ragu, mari kita ulas lagi. Pertanyaan yang sering terdengar dikalangan masyarakat yang tak paham soal ‘kiai’ an. dan seenak udelnya sendiri ceplas-ceplos mengatakan hal yang didasarkan pada otaknya sendiri dan tidak mengkomfrimasi fitnah dan gosip. Para kiai itu sebenernya uga tidak keberatan dan tidak peduli dengan apa yang dikatakan para orang-orang yang tidak paham, toh mereka lebih peduli dengan penilaian Tuhan. Malahan pengikutnya ini yang suka kebakaran jenggot kalau kiainya dihina. Kenapa? Karena mereka sepenuhnya sadar dan tahu bahwa kiainya tidak seperti itu. Mereka hidup disamping kiai bertahun-tahun, dan seperti kita tahu, selalu sowan. Sehingga paham betul bagaimana kebiasaan kiai.

           Saya akui, orang-orang tersebut kelemahannya adalah ‘ngah-ngoh’ kalok ditanya masalah dalil yang mendasari. Contoh.. dalilnya kalau sunah puasa muharram tanggal 9 apa? mereka akan ‘ndlongap-ndlongop’ enggak tau. “Pokoknya kiai saya bilang begitu, dan melakukannya. jadi saya ya manut saja.” Atau permasahalan sosial, kalau mereka bilang perkara ini tidak boleh, ini boleh. Mereka kebanyakan akan ‘blong’ kalau ditanya masalah dalil. Karena mereka mengetahuinya dari kiai. Dan kiai bukannya TIDAK MAU, TIDAK BISA atau TIDAK SANGGUP, melafalkan dalilnya. Tapi masak iya..kiai yang bijaksana itu menyuruh para umatnya yang kebanyakan berprofesi sebagai petani, pedagang itu menghafalkan dalil yang bikin puyeng otak. Padahal berjubelnya masalah mereka saja sudah bikin mereka kalang kabut. Panenan dan dagangan turun harga saja..berhasil membuat mereka putus asa, masa iya pak kiai itu tega membebani mereka dengan menyuruh masyarakat yang bahkan tidak lulus SD itu memberi ‘mentahan’ dengan memberi berbagai macam dalil, dari berbagai macam madzhab, dari berbagai macam disiplin ilmu, kemudian menyuruh mereka untuk menyimpulkan sendiri. MASAK IYA?

           Ya...apa yang disampaikan kiai, baik nasihat-nasihat atau sekedar obrolan itu, pasti sudah merupakan olahan, atau kalau makanan. Itu pasti sudah matang dan tinggal telan. Mereka pasti sudah menyederhanakan, mempertimbangkan dari berbagai macam disiplin ilmu yang mereka pahami. Karena tahu latar belakang pendidikan umat yang dibimbingnya akan kesulitan kalau permasalahan tersebut tidak disederhanakan sedimikan rupa, dan tidak diolah dengan bahasa yang mereka pahami. Makanya kebanyakan mereka tidak tahu dalilnya, karena paham menanyakan dalilnya, justru akan membuat kepala mereka pusing. Kalaupun ada yang menanyakan dalilnya, pasti pertanyaan tersebut datang dari kalangan yang sedikit intelek. Dan mereka sepenuhnya percaya pada ilmu yang berada kiai itu, sehingga mereka juga tidak bertanya. Karena selain percaya bahwa yang di ungkapkan kiai itu berasal dari kedalaman ilmunya, juga karena menurut sebagian masyarakat, bertanya itu dianggp sebagai sesuatu yang ‘saru’ dianggap ‘membantah’ atau ‘tidak sopan’. Padahal ya sebenarnya kalau bertanya, tidak akan dimarahi oleh kiainya. Kita memang “ELEK” perkoro dalil, apalan dalil.  tapi kami tahu dari mana literaturnya. Kalau diminta kami bisa menyebutkan dari mana sanad ilmunya berasal. Jelentrek-jelentrek akan kami sebutkan dari guru kami sampai pada Nabi Muhammad. karena pada umumnya setelah menimba ilmu pada kiai (khususnya para santri) akan di sampaikan dari mana sanad keilmunya. Untuk dimaksudkan agar kita, mendoakan para orang yang telah membagi imu kita dengan mengiriminya alfatehah, sebagai rasa terimakasih, penghormatan dan sekaligus mencari keberkahan pada orang yang alim dan dekat dengan Tuhan.

           Celakanya adalah, orang-orang sekarang, sudah mulai tidak percaya pada hanya sekedar ‘kata orang’. Apalagi orang tersebut adalah orang yang tak begitu mereka kenal, seperti ‘Kiai’. Karena pada umumnya mereka juga tidak hidup dikalangan orang yang tahu Kiai. Karena memang sudah makin sedikit saja orang yang perilakunya menggambarkan ilmu yang ada pada dirinya. Sehingga mereka cederung menodong “Mana Dalilnya? Apa buktinya?. Heleh..ustadzh aja kayak gtu sekarang, apalagi Kiai” Dan kami yang hidup di kalangan para Kiai, karena seperti yang dikatakan sebelumnya tidak tahu dalilnya, tepatnya tidak hafal. karena kami tahunya sudah jadinya, gak tau bahan-bahannya. Jadi mereka yang bertanya itu bukan salah mereka juga lalu kemudian ‘nyinyih’ atau meremehkan pada kita. Karena tidak ada buktinya mereka ya tidak percaya, lha wong mereka tidak mengenal Kiai sebagaimana kita. Lalu ketika mereka mencari sendiri, dengan kemampuan otak mereka yang terbatas, nyari dalil sendiri,nyari hadist sendiri, mikir sendiri, dengan sumber mbah google yang entah dari mana asalnya, yang bisa saja disusupi paham-paham ngawur. Dari pengetahuan mereka yang setengah-setengah, dari puzzle-puzzle doktrin yang entah nyambung entah tidak, yang mereka simpulkan sendiri.  Kemudian mereka bingung yang ditunjukkan oleh perilaku mereka yang semakin aneh, tak tau arah jalan dan tidak tau mana alirannya, ya bukan salah mereka juga, lha wong mereka tidak mengenal Kiai sebagaimana kita. Pas kita berusaha membenarkan, dan mereka tidak percaya karena sekali lagi tidak bisa menyebutkan dalilnya . Ya bukan salah mereka lha wong mereka tidak mengenal Kiai sebagaimana kita. Saya sering sekali geregetan ketika mereka menganggap kita dengan nada meremehkan bahwa kita di doktrin manut kiai karena menyerahkan semua permasalahan, padahal para kiai itu dengan bermurah hatinya sudah menyerahkan suatu pemecahan masalah ibartnya ‘karek ngelakoni’ tanpa kita dipusingkan oleh macam macam dalil. ingin sekali saya membentak “Nek ra manut Kiai, njuk aku kon manut sopo? Pemerintah seng gaene korupsi? Opo DPR seng gaene padu? Opo professor seng ora njowo ilmu agama? Opo manut mbah google? Opo manut kamu seng Alfiah, imrity, nahwu,shorof, fathul qorib, qowaid, ihya’ ora pernah nyicipi padahal itu dasar ilmu ilmu agama?” . Ya... maaf atas kekurangan saya terutama yang begitu bebal, tidak mau menulusuri keilmuan kita, dan mau enaknya sendiri cuma manut kiai. Manut memang hal yang paling enak. Ya saya maklum kalau sebagian besar orang menganggap kita itu taqlid buta, karena pengetahuan kita sudah berasal dari olahan kiai kita. itu juga merupakan kelemahan kita. Tapi walaupun begitu kami  juga tahu mana kiai yang memang pantas dan mumpuni untuk ‘dimanuti”. Tahu mana kiai beneran dan jadi-jadian. Makanya kami lebih suka kiai kampung, yang benar-benar tahu keadaan masyarakat,
membaur dengan masyarakat, enggak asal ceplos dalil tanpa mengetahui akar masalahnya dan keadaan sebenarnya dilingkungan masyarkat.

Kami juga tidak pernah benci dengan utadz utdaz gaul yang ada di TV, kami paham bahwa masyarakat modern sekrang. Lebih cocok dengan ustadz yang modelnya semacam itu. Khususnya masyarakat kota, kantoran, pejabat, atau apalah itu. Karena perkembangan masyarakat modern yang memang menuntut demikian. Tapi ingatlah bahwa masih ada kalangan masrakat yang masih sangat amat membutuhkan pertolongan para kiai kampung, terutama kalangan masyarakat pedesaan... yang untuk memikirkan hidupnya saja susah apalagi memikirkan pemecahan masalah agama. Jadi semua itu ya ada tempatnya. mari kita menempatkan segala sesuatunya dengan adil.

           Terus kesimpulannya piye? bener pora manut kiai? ya namanya juga ‘hal’ pastinya da kurangnya, pasti juga ada lebihnya seperti yang telah disebutkan diatas. Jadi itu menurut saya pribadi tergantung kebutuhan masyarakat. Yang manut kiai ya angan ‘nyalah-nyalahne’yang enggak manut, Yang enggak manut ya jangan menutup diri dari orang yang manut kiai. Seperti yang sering diyakinkan oleh pengamat-pengamat. Dari dua kubu yang berbeda antara kubu yang menjujung tinggi modernitas dan menjunjung tinggi traditionalitas.. NU dan Muhammadiah (Sebut merk) karena kita tahu bahwa Kiai kebanyakan berasal dari kalangan NU. Katanya Muhammadiyah itu ibarat perpustakaan yang kaya buku tapi tidak ada literaturnya. kala NU ya sebaliknya. kaya Literatur tapi tidak ada bukunya. Njok piye kui? Yo digabung wae..kok repot. Ayolah kita kerjasama. Gak usah’Terlalu’ skeptic pada aliran orang. Mau tidak mau kita mengikuti perubahan zaman, dimana orang tidak perlu repot-repot lagi Tanya ke Kiai. Karena sudah digantikan oleh mbah google. Kalau saya boleh meneremahkan bebas, ya mungkin itu alasan Alloh memanggil tokoh-tokoh masyarakat di bumi ini, para kiai, ilmuan, alim ulama, di panggi ke sisi Tuhan. Kerna tugas mereka menjawab segala macam pertanyaan masyarakat memang sudah berkurang digantikan oleh teknologi yang bisa menjawab-dengan resiko salah paham. Dan dengan berkurangnya masyarkat yang ‘kepo’ itu, Tuhan yang begitu sayang mereka, kasian melihat mereka selalu memintakan ampun kepada Tuhan atas tingkah polah kita yang kayak orang kesurupan ini, dan kasihan melihat mereka menanggung beban berat di dunia yang fana ini. Alloh dengan kasihnya, memanggil merkea di sisi-Nya di tempat yang lebih layak.

Trus pada tanya lagi, ya jelas. Kamu dari kalangan Nu yang bla bla bla..ya pasti membela kiai dan fanatik terhadap kiai yang bla bla bla bla. Lha piye..yang aku pahami ya itu. Aku menulis ini karena aku setidaknya sedikit tahu, dan ikut berproses dan tinggal di kehidupan yang semacam itu. Kalok aku nulis yang berbeda sama sekali dengan pengetahuanku. HAduuh...bisa kayak nulis skripsi perjuanganku. Ini aja udah berhasil bikin saya lupa makan. Karena saking asyiknya-atau pusingnya. kalau saya sama sekali gak tahu, makin lama saya cari-cari sumber info di google. Yang mana info info itu kadang sudah di bumbui oleh bumbu instan yang salah, ra enak sisan. Yo runyam lagi urusannya. Ya kalo dirasa tulisan ini tidak netral, memihak atau berat sebelah. Tolong dimaklumi namanya juga otak dengan kapasitas terbatas.

           Jadi intinya (lagi)  karena yang didunia ini tinggal sisa-sisa, kasarnya. Yang tau masalah cuma setengah-setengah, cuma literaturnya doank dan cuma bukunya doang. ya mari kita bekerja sama untuk mengutuhkan kembali pengetahuan kita dan keilmuan kita, dan bersama menegakkan panji panji islam( cieee-ciee)  Masih tidak sependapat dengan saya? Ya wajar...kalok sama namanya kembar. dan saya jadi enggak limited edition lagi haha. Malah bagus...jaman sekarang itu manutan gak boleh. Yang bagus aja ternyata busuk. Dan yang busuk ternyata bagus #curhat. Wong kok manutan (apaan sih woy..selesainya kapan nih tulisan). hahaha ya maaf-maaf. Kalok menulis saya sering lupa diri. Ya pokoknya bgtu lah ya. Salam perdamaian ALLOUHU AKBAR !

Kamis, 09 Oktober 2014

Pengalaman Pertama LDR (Long Distance Relarionship)


Dulu enggak ngerti, kenapa orang-orang selalu pada galau dan alergi yang namanya LDR. Karena ketika kali gue hubungan sama cowok. Tepatnya setelah SMA (telat puber)., yang kutahu ya hubungan jarak jauh. Jadi gue dulu malah heran kenapa ada orang yang enggak LDRan. Dan kenapa orang selalu mengeluh kalau LDR an. Tapi setelah gue bener-bener ngerasain jatuh cinta, gue baru tahu betapa beratnya hubungan jarak jauh itu T_T

Hari Senin tanggal 30 oktober 2014, itu pertama kalinya gue jauh sama ‘sahabat’ (a.k.a pacar) gue dalam waktu yang agak lama. Senimanku itu harus pergi magang ke salah satu studio di Bandung selama dua bulan. Sebenarnya jarak gue ama ‘sahabat’ gue itu memang sudah agak jauh, tepatnya beda kabupaten. Dia di Bantul dan Gue di Sleman karena kita berdua beda universitas. Intensitas bertemu kami pun cenderung jarang, seringnya kami bertemu sebulan sekali, kalau dia ada waktu dan enggak sibuk. Dia harus menyebrangi bantul untuk pergi ke sleman untuk nemuin gue, karena gue saat itu belum punya motor. Ya gue pikir gue bakal enggak ngerasain apa-apa ketika gue sama dia nanti LDR an, karena memang pada dasarnya kita sudah LDR an walaupun jaraknya enggak jauh.

Tapi ternyata dugaan gue salah, sebulan sebelum ‘sahabat’ gue ke Bandung, motor gue dateng, dan gue jadi agak sering ketemuan sama dia. Walhasil ketika dia pergi pamit ke Bandung. Gue tiba-tiba galau. Gue udah ngerasa kehilangan bahkan sebelum dia pergi ke Bandung. Ya ternyata memang berat, bukan soal “tiap hari kita bisa sms an” atau “masih bisa berhubungan” tapi namanya jarak itu memang membuat berbeda. Entah beda dari segi mananya.

Dua bulan sebelum keberangkatannya, dia memang udah ngomong ke gue kalok mau magang. Tapi karena informasinya belum jelas, dia mengatakan bahwa waktu magang minimal selama 6 bulan dan tempatnya di Batam, saat itu yang gue rasain enggak karu-karuan. dan perasaan enggak karu-karuan itu berhasil buat gue nangis di depannya untuk pertama kalinya. Dia panik bagaimana cara menghentikan tangis gue yang makin deres, gue tau kalok dia panik. Tapi diem aja :D, alih-alih mengatakan kata-kata yang menghibur, gue malah dibilangin sambil setengah membentak bercampur bingung “ udah...enggak boleh kayak gitu”  katanya, berkali-kali selama gue nangis. Wuu dasar tuh orang, emang keran bisa berhenti gitu aja :P. Tapi justru kata-kata itu yang bikin gue terngingang—ngiang, dan selalu bikin tersenyum pas inget-inget lagi.

Hari dimana gue mengantarkannya di stasiun lempuyangan, muka gue udah enggak bisa kompromi untuk diajak senyum. Sambil memandangi wajah ‘sahabat’ ku itu dengan muka melas gue berkali kali bilang “Jangan lama-lama, kabari lho” berkali-kali, mungkin sampai dia bosan denger gue bilang gitu. Dan sama dia dibalas dengan kata “iya” dan “Mukanya jangan cemberut gitu, enggak boleh. Pas nanti aku berangkat harus senyum lho” katanya. Iya ‘sahabatku’ itu memang tidak pandai berbicara, dia enggak pandai menenangkan hati gadisnya yang gelisah, tapi setiap katanya selalu berhasil membuatku percaya. Dan aku tahu maksud dibalik perkataannya. Mungkin dia juga menyimpan beban yang gak gue rasain, dia pengen banget menghibur gue tapi itu kata-kata yang keluar dari mulutnya, dan aku tersenyum mendengar kata-katanya itu. tersenyum kenapa dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata manis secara langsung bahkan saat kita akan berpisah untuk waktu yang cukup lama. “Dasar”

Tips Menentukan Judul Skripsi


Gimana cara menentukan judul skripsi?
Yang sebulan terakhir ini gue dibikin pusing sama judul skripsi, gue udah mulai ngerasain ancaman ‘hantu skripsi’ yang bakal selalu mengganggu tidur nyenyak gue, padahal gue demen banget tidur T_T
Jadi ceritanya, mahasiswa psikologi angkatan gue, angkatan 2011 semester VII ini dituntut untuk mengajukan judul skripsi beserta bab satunya. Dan dengan bodohnya gue dan temen-temen gue input KRS skripsi semester ini, sedangkan peraturan rektor baru di Universitas tercinta gue bilang kalok waktu mengerjakan skripsi setelah seminar maksimal 6 bulan, kalok melewati batas itu, silahkan mengulang penelitian, ugh...denger itu rasanya nyesek banget, kayak udah jatuh, ketimpa yang naik tangga, yang naik tangga gendut lagi. Walhasil gue puyeng, ya enggak puyeng-puyeng amat sih, efek puyeng dan tekanan itu ke gue malah enggak bikin gue bergerak cepat, tapi malas ngerjain (silahkan dicontoh kalau mau tekor)
Sebenernya gue udah mikir jauh hari soal judul skripsi, mikir itu maksudnya yaa kadang-kadang kepikiran tapi enggak terus kemudian dipikir secara matang, dan tibanya judul itu gue butuhkan, gue udah lupa T_T, tapi gue nemu judul skripsi yang bagus, tadinya gue mau ngajuin judul skripsi yang berhubungan dengan seni, tapi gue berhenti karena akses gue orang-orang berjiwa seni yang nantinya jadi subjek gue, terhambat. Jadi gue banting setir. Dari sana di otak gue udah macem-macem judul yang berputar tapi semuanya gak jelas, dan gue gak yakin karena semuanya susah ditemui subjeknya. Itulah awal mula kebingungan gue menentukan judul skripsi. Judul yang manaaa ?yang manaaa? Tapi setelah gue konsultasi sana sini ke dosen-dosen gue yang baik hati, akhirnya gue sedikit tercerahkan. Bagaimana solusi untuk menentukan judul skripsi, simak yuk ;)
1.     Jalan-jalan
Whaaat? jalan-jalan? Yaps jalan-jalan, begitulah saran yang disampaikan dosen gue, ke mahasiswa-mahasiswanya. Lu gak bakal nemu judul skripsi kalau lu cuma mengurung diri di kamar, apalagi sambil bobok. Skripsi itu soal fenomena dan kesenjangan antara ‘yang ada’ dan teorinya. Jadi cobalah jalan-jalan kemanapun. Ke pasar, ee club malam, ke perusahaan, ke tempat wisata, ke warung kopi, dan kemanapun yang lu suka. Dan cari ada fenomena apa yang kamu temukan disana dan jarak antara yang seharusnya gimana?

2.     Kualitatif dan Kuantitaif
Tidak ada yang lebih baik antara kualitatif dan kuantitatif, semuanya punya kelebihan dan kekurangan, nah bagaiamana cara menetapkan judul skripsi lu masuk kualitatif dan kuantitaif? tergantung apa yang mau kamu ungkap dari fenomena itu. Kalau dalam fenomena lu muncul pertanyaan mengapa? kenapa? cocoknya tuh skripsi jadi skripsi kualitatif. Kalau yang mau lu ungkap dari fenomena yang kamu temukan muncul pertanyaan “Seberapa pengaruhnya?”  atau pertanyaan mengukur lainnya nah itu cocoknya di kuantitatif.

3.     Yang Menarik yang Ditarik
Bagaimana seumpama lu udah nemu fenomena nih, udah nemuin mau kualitatif dan kuantitatif tapi lu punya banyak judul yang mau lu angkat, tapi enggak tau judul yang mana. Gue sarankan lu pilih judul yang menarik buat lu. Segala sesuatu yang berawal dari ketertarikanmu akan mempermudah pengerjaan skripsimu karena pasti kamu akan antusias mengerjakannya.

4.     Ideal Vs Cepet lulus
Masih bingung gimana nentuin judul skripsi lu? coba lu tanyakan pada diri sendiri, lu ngerjain skripsi ngejer menjadi penelitian ideal atau pengen cepet lulus. Kalau pengen jadi penelitian ideal, pengerjaan  skripsi lu bakal lama, tapi ideal. Kalau ngejer lulus, ya judulnya yang enak-enak aja, yang sederhana  gak usah mluk-muluk, sehingga kamu cepet selesai dan cepet lulus.

5.     Berdoa

Setelah segala usaha kamu lakukan, tapi lu masih bingung judul skripsi lu. Coba kamu mengubungi Tuhanmu, dengan cara agamamu. Tuhan pasti tahu segala sesuatu yang terbaik bagi hambanya. Semoga Dia mau memberikan petunjuk buat kamu.